![]() |
| https://unsplash.com/@fiqihalfarish |
Malam ini, aku merasa heran dengan sikapmu yang begitu manja. Padahal, Juli tahun lalu sudah aku jelaskan: aku memberimu keleluasaan untuk tidak perlu menaruh harapan besar pada kehadiranku.
Aku takut kamu sangat berharap akulah yang akan menjadi pasanganmu. Kamu ingin segera aku melamarmu, padahal aku belum bisa. Aku belum mampu menikahimu dalam waktu dekat. Itulah alasan mengapa sejak awal aku memilih untuk tidak mengikatmu dengan ikatan apa pun.
Namun, malam ini aku menerima hadiah darimu. Katamu, ini hadiah untuk Juli yang ke-29. Aku senang menerimanya, sungguh, tapi di sisi lain, ada rasa takut… takut jika harapanmu yang begitu tinggi justru akan melukai dirimu sendiri.
Aku ini manusia—yang tidak tahu siapa yang akan ditakdirkan untuk bersanding denganku kelak. Jika itu kamu, tentu itu akan menjadi kebahagiaan bagi kita berdua. Namun, jika ternyata bukan kamu, bagaimana nasib hatimu yang kini telah mengikatku lewat pemberian ini?
Aku berharap, mulai sekarang…Jangan lagi memberiku apa pun. Jaga jarak yang semestinya. Berkomunikasilah sekadarnya.
Bukan karena aku tidak menghargaimu, tetapi karena aku tak ingin hatimu lebih dulu patah— oleh harapan yang seharusnya tak perlu tumbuh setinggi itu.

Comments
Post a Comment