![]() |
| Poto by unsplash.com/@drphotographer152 |
Di penghujung malam, aku bermunajat. Memohon agar dibukakan petunjuk atas pilihan yang telah kutetapkan. Bukan dua nama, bukan pula sekadar kemungkinan—melainkan satu nama yang kupilih untuk membersamaiku menyempurnakan separuh agamaku. Aku tenggelam dalam lautan doa. Angin sepertiga malam berembus lirih, keheningan menyelimutiku seperti rahmat yang turun perlahan.
Doaku berlanjut selepas azan Subuh berkumandang hingga syuruq menyapa cakrawala. Aku terus memohon keyakinan: benarkah perempuan yang kupilih adalah yang tepat? Perempuan yang kelak akan menyeberangi samudra kehidupan bersamaku, dalam pasang dan surutnya.
Mentari pagi merekah. Aku bangkit dari sujud, melipat sajadah dan merapikan mushaf yang kubawa. Langkahku keluar dari masjid terasa ringan. Kukenakan sandal, lalu menyusuri jalan pulang. Udara pagi begitu segar. Atap-atap rumah di perbukitan Jawa Barat tampak teduh, dan kicau burung menyambut hari dengan riang yang sederhana.
Sayuran yang kurawat dengan penuh perhatian tampak siap dipanen. Sebelum memasuki rumah dinas—yang disediakan lembaga tempatku mengabdi di sisa usia pengabdianku—aku menyiram tanaman lebih dahulu, memastikan setiap daun menerima cukup air untuk bertahan hingga esok.
Entah mengapa, pagi itu ada dorongan kuat untuk segera membuka telepon genggamku. Namun, tanggung jawab kecil di kebun harus kuselesaikan terlebih dahulu. Setelah semuanya rampung, aku masuk dan mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja belajar.
Tak ada yang ganjil. Media sosial kubuka satu per satu, notifikasi kulihat sepintas. Biasa saja. Hingga akhirnya, pesan dari Pimpinan Lembaga membuat langkah batinku terhenti.
“Bismillah.
Maaf, Ustaz, mau bertanya. Apakah Ustaz sudah memiliki calon istri? Ini ada putri pejabat di pusat 😊”
Aku terdiam cukup lama. Kalimat itu terasa sederhana, tetapi mengguncang ketenanganku. Doa-doa di sepertiga malam tadi kembali terngiang.
Apakah ini petunjuk yang Allah kirimkan sebagai jawaban atas pintaku? bisikku dalam hati.
Batin dan pikiranku beradu. Ada rasa senang—seolah doaku dijawab dengan cara yang tak terduga. Namun, ada pula ragu, sebab ini bukan yang kuharapkan.
Akhirnya, kutulis jawaban itu.
“Iya, Ustaz. Alhamdulillah, sudah ada pilihan. Namun, saya belum tahu apakah ia bersedia. Saya pun belum berani melangkah, karena saat ini tampaknya belum memungkinkan. Qadarullah, ada hal yang membuat saya harus menunda untuk tidak menikah dahulu.”
Pesan terkirim. Tanpa banyak pertimbangan. Tanpa memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan mengikuti.
Saat itu, yang kupikirkan hanya satu: mungkin ini bukan petunjuk yang kuminta. Aku masih berharap Allah mengarahkan hatiku kepada perempuan yang telah kupilih—apa pun akhirnya, diterima atau tidak.
Namun, aku tak pernah benar-benar tahu, apakah peristiwa ini tanda penolakan dari-Nya… atau justru ujian atas keyakinanku sendiri.
Sejak hari itu, setiap ada agenda lembaga yang dihadiri pimpinan, beliau kerap menyinggung kembali jawabanku dengan nada ringan, tetapi bermakna. Aku hanya mampu tersenyum menahan malu. Rekan-rekan kerja pun tak luput berkomentar.
“Kamu menolak permata yang ditawarkan pimpinan.”
Mereka tahu siapa yang dimaksud. Dan benar—aku pun tahu. Kami pernah terlibat dalam satu proyek. Sama-sama aktif di Gerakan Pramuka Indonesia.
Hari-hari berlalu, tetapi bayangan wajah “permata” yang kutolak sesekali hadir dalam pikiranku. Wajah yang mungkin, bagi sebagian orang, adalah kesempatan langka. Namun, setiap kali itu terjadi, aku berusaha meneguhkan hati dengan membayangkan wajah perempuan yang telah kupilih sejak awal.
Aku kembali menimbang dengan pedoman yang diajarkan Rasulullah ﷺ—empat kriteria dalam memilih pasangan hidup. Kucoba jujur pada diri sendiri. Nyatanya, keempatnya ada pada keduanya. Bahkan pada perkara agama, keduanya tak kekurangan.
Lalu di mana letak jawabannya?
Akhirnya aku menyadari satu celah yang tak sempat kupikirkan sebelumnya. Mungkin inilah cara Allah menguji keteguhan niatku. Ada bagian dari diri mereka yang belum sepenuhnya kukenal.
Perempuan pilihanku—aku mengenal sifat dan karakternya, tetapi belum mengenal keluarganya. Sementara putri pejabat itu—aku mengenal keluarganya dengan baik, tetapi belum memahami kepribadiannya.
Dan di situlah aku terdiam.
Pernikahan bukan sekadar tentang aku dan dia. Ia adalah pertemuan dua dunia, dua keluarga, dua latar yang kelak saling bertaut. Bukan hanya tentang rasa, tetapi tentang kesiapan menerima seluruh cerita yang menyertainya.
Di titik itu, aku kembali menyadari: mungkin petunjuk bukan selalu tentang siapa yang datang, tetapi tentang siapa yang tetap kita pilih ketika pilihan lain tampak lebih gemerlap.

Comments
Post a Comment