Sebuah karya yang menggugah masyarakat ditengah-tengah kondisi bangsa Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Saya mendengar buku ini ketika kasus Covid 19 di Indonesia sedang pada puncaknya. Sekitar tahun 2020, membaca dari sebuah postingan di internet terkait unggahan Sinopsis Buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring dan dibahas di channel YouTube.
Qodarulloh pada saat itu saya belum bisa memiliki buku ini. Desember 2022, sambil menunggu jadwal tayang film di Bioskop Cirebon, saya kepikiran untuk mencari buku ke Gramedia. Tepat di Rak Display Buku Terbaru, buku Filosofi Teras ini terpajang.
Buku ini membahas tentang salah satu ilmu filsafat yang ada di muka bumi. Namun, buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring ini bukan buku yang membahas teori-teori Filsafat yang mendalam. Buku ini hanya pengantar filsafat Stoa yang dibuat khusus sebagai panduan moral anak muda. Buku ini ditulis untuk menjawab permasalahan tentang tingkat kekhawatiran yang cukup tinggi dalam skala nasional, terutama yang dialami oleh anak muda.
Sejak media sosial mendarah daging dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia, terkhusus pada generasi muda, tingkat kekhawatirannya meningkat drastis. Dalam riset yang dilakukan oleh penulis dalam buku ini, bahwa tingkat kekhawatiran terhadap hidup secara keseluruhan mencapai 46% dari jumlah responden. Itu terjadi sebelum Covid 19 merajalela di Indonesia.
Buku ini membahas satu ilmu filsafat yang dikenal dengan Filsafat Stoisisme yang di dirikan di kota Athena Yunani oleh Zeno. Dalam buku ini kamu akan menemukan pembahasan tentang filsafat, yang di racik oleh penulis dan disesuaikan dengan keadaan saat ini. Kamu tidak akan jenuh membaca buku ini. Buku ini menghadirkan permasalahan-permasalahan yang sering dialami oleh anak muda, dan bagaimana Filsafat Stoisisme atau Filsafat Stoa ini hadir dalam menyelesaikan permasalah tersebut.
Yang menjadi menarik dari buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring ini adalah, penulis menjelaskan tulisannya sesuai dengan apa yang dia alami. Sehingga pembahasannya terasa oleh kita selaku pembaca.
1. Hidup Selaras Dengan Alam
Dalam buku ini dikatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta merupakan satu kesatuan dan saling keterkaitan. Termasuk semua peristiwa yang kita alami, merupakan mata rantai dari setiap kejadian dan ada keterkaitan dengan kejadian orang lain.
Keterkaitan itu merupakan bagian dari alam, melawan atau mengingkari peristiwa yang terjadi dianggap melawan alam. Contoh paling sederhana adalah kamu memakai sepatu mahal untuk berangkat sekolah, saat pulang kamu tidak sengaja menginjak eek kucing. Peristiwa itu terjadi bukan begitu saja, tapi ada proses-proses dari peristiwa lain.
Misalkan, kita membuang roti sisa sarapan ke tong sampah depan rumah, kemudian ada kucing tetangga kita yang kelaparan akibat tetangga kita itu sedang mudik. Kucing itu menemukan roti yang kamu buang tadi pagi. Ketika sore, kucing itu merasakan perutnya sakit akibat roti yang kamu buang itu kadaluarsa dan ingin buang hajat. Pada saat bersamaan, dia menemukan rumput yang menurutnya sangat nyaman untuk buang hajatnya. Ternyata rumput itu adalah jalur yang sering kamu lalui.
2. Dikotomi Kendali
Prinsip fundamental dalam filsafat stoisisme ini adalah "Di dalam hidup ada hal-hal yang bisa dikendalikan dan ada hal-hal yang tidak bisa dikendalikan". Contoh dalam peristiwa kamu menginjak eek kucing. Kucing tetangga itu eek di jalur yang sering kamu lalui adalah hal yang tidak bisa kamu kendalikan. Atau tetangga kamu membiarkan kucingnya kelaparan, itu juga merupakan hal yang tidak bisa kamu kendalikan. Lantas apa yang bisa kamu kendalikan, atau hal apa saja yang ada dalam kendalimu?
Yang bisa kamu kendalikan adalah segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kamu atas peristiwa tersebut. Contoh, kamu marah dengan peristiwa yang kamu alami, kamu menendang eek kucing itu sampai terkena badan orang yang sedang duduk dikursi depan kamu. Kamu mencaci maki si kucing, bahkan kamu menghardik tetangga kamu yang punya kucing. Atau malah kamu cuek kemudian membersihkan sepatu mahal kamu dan menutup eek kucing itu dengan pasir. Respon kamu terhadap peristiwa tersebut itulah sesuatu hal yang bisa kamu kendalikan.
Contoh lain, kamu menginginkan instagrammu memiliki banyak followers, sehingga kamu berusaha sekuat tenaga untuk membuat konten menarik supaya banyak yang tertarik dengan akunmu. Namun, sudah dua tahun kamu membuat konten, bukannya banyak yang mengikuti, kamu malah mendapatkan cacian dan makian dari netizen. Kemudian kamu marah dan mencaci balik komentar netizen. Respon netizen itulah merupakan sesuatu yang tidak bisa dikendalikan olehmu, sedangkan respon kamu terhadap respon netizen itulah yang bisa dikendalikan olehmu. Satu hal lagi, bertambahnya followers merupakan sesuatu hal diluar kendalimu. Maka, penulis mengatakan dalam buku ini "Siap-siap saja kamu akan kecewa kalau kamu terobsesi pada hal-hal diluar kendalimu."
Kondisi kamu lahir, merupakan hal yang tidak bisa kamu kendalikan. Kamu menyesal dengan keadaanmu karena terlahir dari keluarga kaya, atau kamu menyesal mendapatkan pacar yang cantik. Jika kamu terus menerus memikirkan penyesalan itu, maka siap-siaplah kamu tidak akan pernah menemukan kebahagiaan sejati.
3. Mengendalikan Interpretasi dan Persepsi
Sumber dari segala keresahan dan kekhawatiran kita bukan pada peristiwa yang kita alami, tetapi ada di dalam pikiran kita. Kamu marah kepada tetanggamu yang membiarkan kucingnya eek sembarangan, kamu mencacinya dan kamu menghardiknya. Marahnya kamu itu bukan bersumber dari peristiwa kamu menginjak eek kucing, tetapi pikiran kamu yang mengatakan bahwa kamu harus kesal dan marah atas peristiwa yang kamu alami.
Filsafat Stoisisme mengatakan bahwa respon pertama kamu marah adalah sebuah kewajaran. Sebab menurut aliran filsafat ini ada istilah yang dinamakan dengan interpretasi otomatis. Dalam setiap peristiwa kamu akan otomatis mentafsirkan peristiwa ini sebagai peristiwa negatif, Padahal itu hanya penilaian subjektif kamu saja, bukan penilaian objektif.
Hendry Manampiring memberikan solusi ketika kamu mulai merasakan emosi negatif dengan menggunakan langkah-langkah yang disingkat STAR (Stop, Think and Assess, Respond). Ketika kamu merasakan emosi negatif mulai hadir, berhentilah sejenak untuk tidak melanjutkan emosi negatif tersebut (Stop). Kemudian pikirkan dengan rasional dan berikan penilaian apakah ini baik atau buruk, apa akibat dari kebijakan yang kamu ambil ini (Think and Assess). Dan terakhir barulah kamu memikirkan respon atau tindakan apa yang harus kamu ambil (Respond).
4. Memperkuat Mental
Pernahkah kamu menyiapkan sesuatu sebaik mungkin, tapi pada hasilnya apa yang kamu siapkan itu tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan. Bagaimana perasaanmu? Jika kamu merasa marah, atau kesal dengan hasil yang kamu terima, dan membuat kamu stress, maka tepat sekali kalau kamu membaca buku karya Hendry Manampiring ini.
Filsafat Stoisisme memberikan trik bagaimana membantu kita merasa damai tentram di tengah hidup yang ada di luar kendali kita. Serta supaya kamu mampu meminimalisir perasaan marah dan kesal kamu sehingga mampu meminimalisir bahkan menghindari stress yang berlebihan.
Pertama, dengan cara kamu memikirkan atau memvisualkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi Dalam hal ini jika pun hal negatif itu terjadi maka kamu tidak akan terlalu dalam memikirkannya, sebab pernah kamu prediksi dan pernah ada dalam pikiranmu. Teori ini disebut dengan Premeditatio Malorum.
Kedua, dengan cara menikmati hidup yang sedang kamu jalani saat ini, dan tidak menginginkan kehidupan yang sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Contoh ketika kamu menginjak eek kucing, terus kamu bilang pada dirimu sendiri
"Andai saja aku bisa melihat eek kucing yang terletak disini, mungkin akan berbeda cerita."
Ingatlah! Filsafat stoisisme mengatakan bahwa setiap kejadian itu saling keterikatan dengan kejadian lainnya. Jadi apa yang sudah kamu alami saat ini, merupakan akibat dari kejadian-kejadian lain yang ada di dunia. Teori ini disebut dengan Amor Fati (Mencintai Takdir).
5. Hidup diantara Orang yang Menyebalkan
Dalam hidup ini ada hal di luar kendali kita dan ada hal di dalam kendali kita. Perilaku orang lain adalah sesuatu hal di luar kendali kita. Terkadang perilaku orang lain itu membuat kita marah, kesal, sebal. Maka, menurut filsafat stoisisme kita harus fokus pada apa yang ada dalam kendali kita, bukan pada hal diluar kendali kita.
Orang lain membuat kita kesal merupakan sesuatu hal di luar kendali kita, kita tidak bisa meminta orang itu untuk tidak membuat kesal. Begitupun perasaan kesal yang kita alami, perasaan itu adalah sesuatu hal yang bisa kita kendalikan. Kita mau terpengaruh oleh perkataan orang lain/ perilaku orang lain, itu sepenuhnya ada dalam kendali kita. Kita lah yang mengijinkan diri kita untuk marah, atau mengabaikan perilaku orang lain itu.
Terkadang orang lain membuat kita kesal bukan karena apa yang mereka lakukan, tetapi karena apa yang tidak mereka lakukan. Contoh kamu sedang duduk di kendaraan umum, tiba-tiba ada nenek-nenek yang tidak kebagian tempat duduk. Lantas kamu berinisiatif untuk memberikan tempat dudukmu ke neneknya. Kemudian nenek itu menerima tawaranmu, tetapi tidak memberikan respon apa-apa, bahkan ucapan terima kasih sekalipun. Kamu merasa marah dengan perilaku nenek itu. Sebenarnya kamu bukan marah karena apa yang dilakukan nenek itu, tetapi kamu marah karena nenek itu tidak melakukan hal-hal yang menurut kamu harus nenek itu lakukan, seperti mengucapkan terima kasih.

Comments
Post a Comment