Hari ini, kita sudah
berada dipenghujung tahun 2023. Banyak cerita yang terukir, suka maupun duka,
susah maupun senang, tangis maupun tawa. Esok, kita siapkan lembaran kertas
kosong yang baru, esok kita akan menyongsong tahun baru 2024.
Mari bercermin pada kisah 364 hari yang telah kita lewati bersama. Hadirnya tangis yang membuat perasaan, pikiran, dan tindakan bekerja keras. Terukirnya cerita duka yang Tuhan hadirkan hanya untuk kita. Hanya kita yang Tuhan percaya untuk menerima skenario itu.
Lihatlah diri kita sekarang, berdiri tegak. Berhasil mengikuti skenario Tuhan, berhasil melewati cerita itu. Lihatlah kita sekarang, berdiri tegak. Itu bukti bahwa kita sanggup melewati kisah duka, susah, dan tangis yang Tuhan berikan hanya untuk kita seorang.
Hadirnya tawa setelah tangis, hadirnya suka setelah duka, hadirnya senang setelah susah. Ini semua adalah sistem yang Tuhan ciptakan. Tuhan mendatangkan cerita tentang tangis untuk kita, Tuhan juga pasti akan memberikan tawa setelah tangis itu berhasil kita lewati.
Pernah aku menggoreskan tinta diawal tahun, mendeklarasikan cita menjadi sebuah mimpi yang harus terwujud di tahun 2023. “Manusia hanya bisa merencanakan, Tuhan lah yang menentukannya”, itulah syair yang aku jadikan pengingat tatkala rencana Tuhan lebih indah dari pada rencana manusia.
Tepat saat ini, dipenghujung cerita 2023, kutuliskan kata untuk menjadi sebuah bentuk nyata, bukan sekedar mimpi semata. Inilah, Resolusiku ditahun 2024.
Tidak ada segores tinta pun yang aku tuliskan untuk sebuah harapan yang sia-sia. Aku harus menyempurnakan separuh agamaku di tahun 2024. Aku harus menggoreskan tinta untuk sebuah cerita, antara aku, kamu dan keluarga kita. Namun, ini hanyalah sebuah rencana manusia, bukan ketentuan Tuhan.
Cerita tentang rindu yang keliru, harus aku sempurnakan menjadi sebuah rindu yang tersampaikan. Tentang skenario yang aku tulis untuk 2024, aku catat dalam secarik kertas. Biarkan aku dan Tuhan yang tahu dimana kertas itu aku simpan.
Comments
Post a Comment