Dalam kehidupan sehari-hari, yang notabenenya terdapat lebih dari dua manusia yang berinteraksi, menimbulkan dampak yang berbeda. Sehingga respon masing-masing manusia nya pun berbeda. Begitulah kenyataannya dalam kehidupan bersosial.
Hal paling kecil yang saya alami, ketika kehidupan asrama bersama teman-teman mahasiswa STIS Husnul Khotimah. Kehidupan asrama tidak luput dari interaksi dua manusia atau lebih. Hal ini juga menimbulkan dampak yang signifikan atas keberadaan manusia dalam satu tempat. Dampak yang paling besar pengaruhnya adalah terkait sampah. Dengan jumlah manusia yang berinteraksi lebih dari 10, membuat sampah yang diproduksi juga semakin banyak.
Begitu juga ketika saya berada di Rumah Dinas Pegawai Bujang, ketika saya ditugaskan Yayasan untuk menjadi bagian didalamnya. Rumah Dinas Bujang, yang sering kita sebut dengan Rudin ini terdapat 6 manusia yang berinteraksi didalamnya, termasuk jumlah sampah yang dihasilkan. Bukan soal banyak atau sedikitnya sampah yang dihasilkan, tapi ini soal kesadaran para penghuninya terkait sampah yang dihasilkan oleh dirinya sendiri.
Harapan setiap orang pasti ingin ada kesadaran Dari setiap penghuni, namun setiap orang juga memiliki kepribadiannya sendiri yang tidak bisa kita atur. Bukan maksud mereka tidak mau untuk membersihkan, namun karena setiap mereka membersihkan, respon dari yang lain justru tidak mendukung tindakannya sehingga ada istilah "cape-cape urang nu meresan, Ari nu lain na Ngan cicing wae". Respon inilah yang menghantarkan mereka untuk seperti respon yang lainnya, membiarkan sampah dan keadaan berserakan.




Comments
Post a Comment