Kamu mahasiswa semester akhir? Pasti pernah mengalami momen ketika dikejar-kejar deadline skripsi. Kita yang sudah siap, eh... dosennya yang belum bisa. Giliran dosennya bisa, kitanya yang belum siap. Belum lagi urusan ngejar-ngejar bimbingan, printer yang tiba-tiba ngadat, atau rasa malas yang menyerang tanpa permisi. Cerita-cerita seperti inilah yang biasanya paling membekas bagi setiap mahasiswa tingkat akhir.
Tapi ada satu cerita menarik dari proses Sidang Munaqosah yang saya jalani. Sebenarnya, proses menuju sidang itulah yang penuh lika-liku. Saya masuk kuliah tahun 2017 sebagai mahasiswa baru. Kalau dihitung normal, seharusnya saya lulus di tahun 2021. Nah, justru cerita ini dimulai dari tahun tersebut. Saat memasuki akhir semester 8, belum ada satu pun dari teman-teman seangkatan yang melaksanakan sidang Munaqosah. Bahkan, ada juga yang belum melewati sidang proposal. Alhasil, kami semua harus lanjut ke semester 9. Luar biasa, bukan? Haha.
Saat pertama masuk kuliah, para dosen sering mengatakan bahwa mahasiswa penerima beasiswa wajib menjalani pengabdian selama satu tahun setelah lulus. Dan saya adalah salah satu penerima beasiswa tersebut. Tapi, ternyata di internal kampus sendiri, aturan soal pengabdian ini masih menjadi perdebatan. Saya dan beberapa teman yang sudah masuk semester 9 seharusnya sudah mulai masa pengabdian, tetapi kami belum juga menjalani sidang skripsi. Inilah yang kemudian menimbulkan tarik-ulur di kampus. Akhirnya, kami menjalani dua hal sekaligus: menyusun skripsi sambil menjalani pengabdian.
Saya termasuk mahasiswa yang menjalani sidang Munaqosah di akhir semester 10—bahkan termasuk dalam gelombang terakhir. Sebagai mahasiswa pengabdian yang ditugaskan di kampus, saya harus terlibat dalam setiap program kampus, termasuk dalam menyukseskan sidang Munaqosah untuk teman-teman angkatan saya. Mulai dari menyiapkan ruangan, perlengkapan, sampai konsumsi, semuanya saya bantu.
Lucunya, ketika tiba giliran saya untuk sidang Munaqosah, tidak ada orang lain yang bisa membantu menyiapkan segala keperluannya. Jadi, saya sendirilah yang harus turun tangan. Saya yang sidang, saya juga yang menyiapkan ruangannya, dan bahkan saya pula yang merapikan ruangan setelah sidang selesai. Hahaha... dari saya, oleh saya, untuk saya.
Pada akhirnya, bulan September menjadi penutup dari masa pengabdian yang penuh cerita, tawa, dan perjuangan.
![]() |
| Persiapan Ruangan Untuk Munaqosah |
![]() |
| Prosesi Sidang Munaqosah |
![]() |
| Pembersihan Ruangan Paska Sidang Munaqosah |




Comments
Post a Comment