![]() |
| Photo By https://www.instagram.com/gunung_ciremai/ |
Embun pagi berusaha tetap bertahan diujung dedaunan, namun perlahan melepas pegangan, bersiap terjatuh dalam pelukan bumi yang penuh kesegaran. Kicauan burung memanggil penuh kelembutan, menatap sang embun yang tersenyum dalam pelukan. Bau khas, tertiup angin menusuk dalam lamunan, menggetarkan pandangan dua insan ciptaan sang pemilik keabadian. Menahan beban penghidupan, untuk bekal perjalanan menikmati atap peradaban.
Ini kisah aku dengan seorang perempuan kelahiran asli kota bertajuk kota kuda. Perempuan Introvert, tidak suka keramaian, dan perempuan pecinta kopi. Seperti aku, kopi ibarat teman di kala kondisi sedang tidak baik-baik saja. Kenapa ya, aku selalu tertarik dengan perempuan seperti dia. Seperti Rani, teman sekolahku yang pernah mengutarakan perasaannya. Dia juga sama perempuan Introvert, namun tidak suka kopi. Kata dia, pahitnya mengingatkan pada masa lalu.
Rani punya perawakan tinggi dan langsing, perempuan itu juga. Rani berambut panjang, perempuan itu juga. Rani pecinta bahasa Arab, perempuan itu juga. Eh, dia lebih tertarik pada bahasa Inggris. Katanya, itu bahasa internasional. Bisa membuka cakrawala jika menguasainya. Bisa menjadi pintu penghubung. Bedanya dia dengan Rani, dia pecinta ketinggian. Gunung bisa menjadi tempat pelarian di kala hati ingin berlari. Gunung bisa menjadi pelampiasan ketika diri butuh sandaran.
Aku menyebutnya Jasmine. Putri seorang saudagar kaya pemilik showroom mobil. Itu bukan nama aslinya, tapi aku panggil dia dengan nama Jasmine. Seperti Aladdin yang tidak bisa mendapatkan putri Jasmine, begitu pun aku, tidak bisa memiliki nya. Status sosial kita sangat jauh. Aku hanya mampu menjadi temannya, hanya bisa mencintai nya tanpa bisa memiliki nya.
3078 MDPL, 5 Juni 2021. Kisah ini dimulai dari ekspedisi perjalanan penuh rintangan, ke puncak tertinggi Jawa Barat. Tidak seperti biasanya, pendakian kali ini hanya berempat. Aku dengan temanku, dan dia dengan temannya. Teman Jasmine ini, Gita, pertama kali melakukan pendakian. Sekalinya mendaki, langsung ke puncak tertinggi.
Sejak pertemuan pertama, Gita sudah bilang bahwa ini pendakian pertama nya. Dan kita sudah antisipasi akan hal-hal yang kemungkinan akan terjadi. Kita berangkat dengan pembekalan maksimal dan persiapan yang tidak perlu dipertanyakan. Perjalanan ke pos satu, pos dua, pos tiga, hingga ke pos terakhir pendirian tenda kita lewati dengan penuh canda, tawa dan cerita. Bahkan kita sempat membuli Gita. Wajarlah ya, hal itu terjadi. Hanya sekedar memecah keheningan malam dan menghangatkan suasana. Selama perjalanan, aku selalu berujar, 24 jam akan menjadi waktu terindah buat kita berempat. Kita akan saling mengenal karakteristik masing-masing.
Hitam, gelap. Secercah cahaya, harapan setiap orang yang sedang berjuang menuju titik tertinggi. Wandi, temanku mencoba mengatur posisi. Aku paling belakang dan Wandi paling depan. Kedua Gita dan ketiga Jasmine. Tepat pukul 3 pagi, kita berjalan menerjang kegelapan malam dan keheningan alam raya. Formasi kita mulai terpecah, Wandi dan Gita 15 menit lebih awal, sedangkan aku dan Jasmine dibelakang. Jalur yang kita lewati lumayan menantang. Ini yang mengakibatkan aku dan Jasmine terpisah sangat jauh dengan Wandi dan Gita. Ditambah kita berdua, salah masuk jalur. Jalur yang seharusnya tidak dilewati.
Gelap mulai pergi, terusir oleh cahaya mentari yang mulai bergerilya masuk ke celah-celah pepohonan. Dimples on One Cheek, tersinari mentari pagi. Menambah keelokan dan kanggunannya. Senyumannya pertanda bahwa harapan masih ada.
"kak, haruskah kita terus berjalan?Sinar mentari membantu kita mencari jejak kaki".
"A... aaa.. ayo, kita harus segera memberi kabar, takut keadaan semakin memburuk" sambungku.
Tenang! Itu yang aku suka. Walau canggung, terkadang selalu hadir secara tiba-tiba. Kata orang, kalau kita canggung ketika bertemu seseorang, berarti ada sesuatu. Apakah ada sesuatu antara aku dengan dirinya? Entahlah. Ini belum 24 jam.
Kita berjalan, menyusuri celah-celah alam raya. Banyak jejak kaki hewan, ini pertanda kita masuk zona rimba. Zona yang seharusnya tidak di injaki kaki. Apalagi kita berdua, yang hanya sedikit mengenal alam rimba.
Semilir bau khas ancala. Ciremai yang pernah memuntahkan isi perutnya, kini seakan menyambut dua insan yang tak jelas rupa. Namun samudera, berbeda, dia mempercantik elok rupanya. Kini, kita tepat di pijakan terakhir sebelum titik tertinggi. Aku terdiam, tak mampu berkutik, apalagi mengeluarkan kata-kata. Aku dibuatkan buta, akan keindahannya. Dia tersenyum manja, melambaikan tangan sembari berkata, "kak, kesini. Kita sudah sampai di atap tertinggi". Aku berlari menuju sumber suara, diapun berlari seakan menyapa. Dia memelukku, pelukan yang akupun tak menyangka. Ini nyata, atau hanya sekedar hayalan semata?
"Woii, kemana aja lu, kita khawatir nih".
Ah sial, ternyata ini hanya lamunanku saja. Tiba-tiba Wandi menepuk pundakku.
"Apa? ia nih. Kita salah masuk jalur. Kapan kamu sampai ke sini? Udah lama?" Tanyaku padaWandi.
"30 menit yang lalu". jawabnya.
Aku hanya bisa bersyukur, dipertemukan kembali dengan mereka berdua, dalam keadaan seperti semula. Aku, dia dan mereka, menikmati keindahan gunung tertinggi di Jawa Barat ini dengan cucuran air mata. Bukan karena pertama, tapi ini pendakian yang penuh makna. Suka maupun duka, apalagi ketika kita terpisah, ini menjadi momen pertama bagi ku. Berdua, di alam terbuka. Aku bahkan sampai berpikiran, jika tidak mati karena kehabisan makanan, ya mati karena di makan si kucing hutan. Yang aku hawatirkan Jasmine, aku takut dia kenapa-napa. Aku takut mental dia yang kena. Kata beberapa pendaki, bukan fisik yang membuat kita bisa menginjakan kaki di atap tertinggi, tapi minset, mental kita. Kalau kita bisa menjaga mental dengan baik, kita akan sampai di tujuan. Tapi kalau mental sudah kena, pemikiran kita yang tak karuan, jangankan atap tertinggi, yang ada kita bisa mati. Namun tidak dengan Jasmine, pengalamannya mendaki ke beberapa gunung, membuat dia mampu mengendalikan pikirannya. Buktinya, dia mampu membuatku membalas senyumannya. Apalagi pagi ini, di atap tertinggi Jawa Barat, pandangan kita selalu saja berpapasan. Saling membalas senyuman. haaaaaaaaah sudahlah. Ini momentum yang harus aku abadikan. Aku mengajaknya untuk duduk di pinggir, memandang kabut yang semakin siang semakin berdatangan. Namun sesekali berhenti, sebatas mempersilahkan sang surya untuk menyinari kita berdua.
Terik mentari mulai terasa, ini pertanda kita harus segera menyudahi cerita, bersegera untuk turun meninggalkan kenangan. Membiarkannya menyatu dengan alam dan hembusan awan tebal. Langkah demi langkah, antara batu dengan batu, pos dengan pos, pendaki dengan pendaki, hingga pada akhirnya kita harus berpisah di pos pendakian pertama. Pos yang akan menjadi saksi perpisahan aku dengan Jasmine, dan dengan semua pendaki. Kini hanya kenangan yang tertinggal. Yang akan aku tuliskan, akan aku ceritakan pada seluruh alam bahwa aku pernah mengenal si gadis dengan lesung pipi.

Comments
Post a Comment