Skip to main content

Rindu Diujung Waktu


        Merah mencekam, bumipun seakan menghitam. Mentari mulai meninggalkan kekasihnya dan tergantikan oleh rembulan. Memang tak ada siang yang abadi maupun malam yang abadi. Yang ada hanya siang dan malam, itu pasti abadi. Tak ada mentari yang abadi apalagi rembulan. Yang ada mentari dan rembulan pasti abadi. Mungkin inilah filosofi yang dapat aku gambarkan pada Kisah Cintaku yang terpendam untuk seorang gadis Ayu asli Yogyakarta. Perpisahan ini pertanda bahwa aku tidak abadi, diapun tidak abadi. Kepergian nya ke Jerman membuat jarak pemisah antara kita semakin jauh. Komunikasi kita tidak sesering sebelumnya. Jangankan berbincang mesra, bertukar kabar pun jarang. Dia sibuk dengan urusan studinya, dan aku sibuk mengurusi pekerjaanku. Lama-lama kesibukan masing-masing menjadikan komunikasi kita terhambat. Bahkan hampir tidak pernah. Nomor yang dia gunakan pun lenyap dimakan waktu. Tak bisa tersambung. Entah dia sengaja mengganti atau ??? Media sosial yang sering digunakan dulu, kini seakan menjadi rumah kosong, sepi tak berpenghuni.

            Engkau begitu cemburu. Terlihat dari balasan WhatsApp mu yang hanya membalas "ia" atas pertanyaan panjangku, apakah orang yang menyukai photo ku di Instagram adalah Rani? Wanita yang sering aku bicarakan pada mu. Hari demi hari aku menanti pesan darimu, namun tak ada satupun jawaban. Ku sapa setiap burung yang bermigrasi, namun tak ada yang tahu kabar dirimu. Ku tanya setiap angin yang berhembus, namun tak ada yang mampu menjawab. Inikah delima cinta?

Melly, Walau banyak wanita cantik yang dulu pernah aku bicarakan kepadamu, percayalah itu hanya sebatas guyonan agar aku bisa bercanda denganmu. 


***

        Hiruk pikuk kota kembang tidak seperti biasanya. Kota dengan julukan Paris Van Java ini begitu padat dengan polusi. Jalanan Braga begitu ramai dengan pejalan kaki maupun kendaraan bermotor, padahal ini bukan akhir pekan. Aku terpaksa mengambil jalan lain untuk menghindari kemacetan jalanan.

Perjalanan Bandung Jakarta harus aku tempuh. Ada meeting yang harus aku ikuti di kantor pusat. Kantor Cabang sudah menjamin segala keperluan di Jakarta. Aku hanya tinggal berangkat. 

        Perubahan rencana program tahunan yang harus diambil adalah jalan penting di masa resesi ini. Keadaan ekonomi negara yang sedang tidak baik-baik saja mengharuskan perusahaan mengambil keputusan dengan cepat. Yang tidak pernah aku bayangkan, kantor pusat memutuskan untuk menempatkan ku di kantor cabang Yogyakarta. Track record di kota Bandung menjadi pertimbangan kantor pusat memutuskan aku untuk berkantor di surganya para pelajar. Dengan background ku di pergerakan mahasiswa Ekonomi Islam, kantor pusat menilai cocok untuk mempertahankan dan meningkatkan kantor cabang di tengah resesi ini.


***

        Setetes air hujan di subuh pertama, kesejukan udara yang dilahirkan dari adat budaya masyarakat di sekitaran keraton membuat kesejukan menenangkan pikiran. Sebait firman tuhan menjadi penambah tenangnya perasaan dan pikiran untuk menjemput hari ini dengan semangat penuh harapan. Semilir angin kota adat ini mengingatkan ku akan Melly Subandono. Saking sibuknya pekerjaan di Bandung, membuat aku tidak sempat mengabarkan pada Melly. Keadaan Melly yang susah di hubungi membuat aku penasaran untuk mengunjungi keluarganya, mengokohkan kedekatan antar sesama muslim dengan mengamalkan satu perintah-Nya "Silaturahim". 

       Perjalanan ini seakan mengenang masa-masa kuliah dulu. Berjalan beriringan, berkendaraan sepeda khas zaman penjajahan, berdiskusi dengan masyarakat hanya untuk sebuah perubahan. Menahan lapar karena uang dijajan digunakan untuk keberlangsungan sebuah program. "Hahahahaha" aku tersenyum sendiri. Mengenang lucunya masa-masa dimana idealisme menjadi pemikiran harga mati bagi mahasiswa. 

              Dalam perjalanan menuju keluarga Melly, aku kepikiran untuk membawa buah tangan sebagai penghormatan dari seorang tamu untuk tuan rumahnya. Ada banyak toko yang aku lewati, namun entah kenapa aku tidak tertarik pada penawaran-penawaran toko tersebut. Aku tertarik pada sebuah kios buah yang menurut ku biasa-biasa saja untuk sekelas masyarakat kota Bandung. Memilah dan mencicipi buah mana yang cocok untuk aku hadiahkan ke keluarga Melly. Ada satu buah yang membuat aku penasaran untuk menggapainya. Tangan ini seakan gatal untuk segera merangkulnya. Aku segera menuju buah tersebut dan segera menggapainya. Namun naas beribu naas, buah yang aku incar sudah di gapai orang lain. Yang harusnya aku memegang buah, malah memegang tangan orang lain yang sudah dulu menggapainya. "Astaghfirullah" terucap dari mulut perempuan berhijab coklat sembari menarik tangannya dari genggaman jahilnya tanganku. Aku sendiri terperanjat karena mendengar ucapan itu, hampir terperusuk pada susunan buah-buahan karena mencoba menarik tangan jahil yang tak sengaja memegang tangan perempuan itu. "Kak Gara ?", "Anna ?". "Anna temannya Melly kan?" Tanyaku keheranan. "Ia kak, ini Anna. Kak Gara Apa Kabar?". Tanya nya.  

"Baik, Baik, An. Anna sendiri apa kabar?".

"Anna baik juga kak. Ngomong-ngomong dalam rangka apa kak Gara di Jogyakarta? Bukannya kak Gara di Bandung?".

"Hmmm , kayanya kita ngobrol nya sambil makan-makan aja, gak enak kalau sambil berdiri seperti ini". "Ia kak, ide bagus tuh".

"Jadi kakak disini itu dalam rangka tugas kantor An. Kakak di tugaskan untuk mimpin Kantor Cabang di Yogyakarta. Kebetulan ini mau silaturahim ke keluarga nya Melly. Melly susah dihubungi An. Anna sendiri disini lagi ngapain?". Tanyaku melanjutkan perbincangan.

"Barokalloh kak, semoga mampu memimpin perusahaan di Yogyakarta. Kantor cabang Yogyakarta kebetulan sedikit kena imbas dari Resesi ini kak. Apalagi pak Doni yang sebentar lagi akan berakhir masa tugasnya. Kebetulan Anna juga mau ke rumahnya Melly. Bener kata kakak, Melly susah dihubungi. Terakhir aku hubungi dua atau tiga bulan yang lalu. Itu juga lewat akun media sosial temannya yang orang Samarinda". Jawabnya.

Aku sedikit kaget dengan apa yang Anna ucapkan. Kok dia tahu keadaan kantor cabang di Yogyakarta. Namun lamunan ku terganggu oleh petikan gitar pemuda tuna Karya. 

"Wah, Melly hilang kontak sama kakak sudah satu tahun Ann. Kenapa Melly bisa menghubungi kamu ya? Kenapa ke kakak gak ada ya?". "Kok kebetulan banget ya Ann. Anna bareng siapa kesini?, Kalau gak keberatan Anna bisa bareng kakak" Lanjutku

"Masa sih kak, selama itu kah Melly gak ngehubungi kakak?, Ia nih kak. Boleh-boleh kak Alhamdulillah ada tumpangan gratis nih. Hehe. Kebetulan Anna bareng adik Anna yang laki. Tuh dia baru dari kamar kecil".

            Berbincang tentang masa lalu kadang mengasyikan, walau harus mengenang masa kelam. Namun itu semua sejarah yang harus kita terima. Aku dan Anna bergegas melaju menuju keluarga Melly. Selama dalam perjalanan kita banyak berdiskusi tentang pekerjaan, kebetulan Anna jurusan Akuntasi Syariah. Jadi obrolan kita nyambung dan satu saluran. Aku mencoba bertanya kenapa Anna tahu seluk beluk Kantor Cabang perusahaan ku di Yogyakarta? Sambil tersenyum dia menjelaskan bahwa sejak lulus kuliah dari UMY dia ditarik oleh pak Doni untuk bekerja di Perusahaan yang pak Doni pimpin. Hingga akhirnya dia diamanahkan sebagai kepala bagian keuangan. Itu tandanya Anna akan banyak bertemu denganku di kantor. Kita akan sering berinteraksi. Pimpinan dan kepala bagian keuangan bagai satu ikatan yang tidak bisa dijauhkan. Anna malah tertawa dan aku pun ikut tertawa. Aku merasa ada yang aneh dengan perasaan ini, kenapa tiba-tiba timbul rasa bahagia ketika mendengarkan penjelasan Anna tadi? Ah mungkin ini karena aku sudah kenal Anna sejak di bangku kuliah dulu.

            Tidak sampai 30 menit kita sudah sampai di rumah keluarga nya Melly. Kebetulan sekali Keluarga besar Melly sedang kumpul disana. Aku dan Anna masuk di sambut oleh ibu dan ayahnya Melly. Mereka merasa bahagia ketika kita datang. Secara, lebih dari dua tahun rumah ini menjadi tempat bermain dan berdiskusi tentang tugas-tugas kuliah. Ibu dan ayahnya Melly sudah kita anggap sebagai orang tua kita sendiri. Kita berbincang tentang pekerjaan dan karir. Ayah dan ibu Melly ikut bahagia ketika tahu aku jadi pimpinan di kantor cabang di Yogyakarta. Secara mereka berdua merupakan salahsatu partner bisnis perusahaan yang aku pimpin sekarang. Aku bertanya tentang keadaan Melly, kenapa Melly gak ada kabar selama satu tahun ini. Mereka menjelaskan bahwa sejak dua tahun yang lalu Melly fokus untuk mengejar target S3 dan ditambah lagi tas Melly dan segala isinya, ada HP, laptop, dompet, semua hilang ketika Melly sedang ujian lapangan di Jerman. Mereka juga menjelaskan kenapa Melly tidak mengabari ku. Melly sedang dirundu kebingungan. Melly di lamar sahabatnya sendiri, Kakak tingkat di Fakultas tekniknya. Tepatnya pas kelulusan Melly empat bulan silam. Ditambah lelaki tersebut merupakan anak Sahabat dekatnya ayah Melly dan salahsatu partner bisnis yang ikut join di perusahaan yang sekarang aku pimpin.


***

            Siang berselimut kabut, tak ada panas tak ada hujan. Hanya awan hitam yang menutupi  Yogyakarta. Penjelas orang tua Melly seakan menghancurkan harapan dan do'a-do'a ku. Do'a yang ku panjatkan disaat mengiringi kepergian mu ke Jerman. Dering Handphone berbunyi, memberitahukan bahwa ada pesan masuk yang harus ku baca.


Untuk Kakak ku Dimas Anggara Permana
Dari Adikmu Melly Subandono,

 

    Teriring salam rindu untuk kakak disana. Dimana pun kak Gara berada semoga kakak dalam keadaan baik-baik saja.
Cinta yang sengaja ku simpan rapih-rapih, hanya karena sebuah keegoisanku atas cita-cita besar. Sengaja ku simpan dalam diam, agar aku bisa fokus pada prinsip hidupku. Seperti kakak bilang "Hidup adalah pilihan, Prinsip kitalah yang harus diperkuat, agar pilihan kita tidak menggoyahkan tujuan kita", begitupun aku. Jujur kak, selama lima tahun lebih ini kakak adalah sumber motivasi terbesarku hingga aku bisa menyelesaikan S2 di negeri yang aku impikan. Kakak adalah panutan ku. Kakak adalah sumber inspirasi ku.
"Kita hanya mampu merencanakannya, Alloh lah yang menentukannya". Kakak masih ingat perkataan itu kak?  Ya itu terjadi padaku kak. Kakak adalah rencana ku untuk dunia selanjutnya, namun Alloh berkata lain, Aku punya kakak tingkat yang sama-sama jurusan teknik, dia lulusan pesantren sebagaimana yang kak Gara sarankan dulu. Aku merasa cocok karena prinsip kita sama, sama-sama fokus pada dunia teknik. Seperti kakak bilang "Kamu harus bisa memilih pasangan yang sefikroh, yang sepemikiran". Aku sudah temukan orang tersebut. Dia adalah Muhamad Husein Ghani, asli keturunan Samarinda. Ayahnya adalah sahabat dekat Ayah Melly kak. Tiga bulan yang lalu dia memberikan hadiah yang diidam-idamkan oleh setiap perempuan termasuk aku. Kak Ghani melamar ku. Setelah aku konsultasi dengan Murobbiah ku di Jerman dan atas arahannya juga agar aku melakukan Istikharah, Insyallah aku menerima kak Ghani untuk menjadi suamiku. Aku belum memberitahukan kepada siapa-siapa soal ini bahkan kepada keluarga besarku.
    Maafkan aku kak Gara, bila Melly banyak salah sama kakak. Terimakasih atas bimbingan 5 tahun terakhir untuk menjadikan Melly perempuan seutuhnya. Insyaallah dua bulan lagi keluarga besar kak Ghani akan bersilaturahim ke Yogyakarta untuk memastikan segalanya.
Melly do'akan semoga kakak mendapatkan sebaik-baiknya perempuan. Seperti yang kakak harapkan dalam setiap do'a-do'a kakak. Terimakasih kak Gara.

 

Salam rindu dari Adikmu
Melly Subandono

 

            Terbelenggu oleh keadaan yang tak pasti, namun ini nyata. Ku lihat wajah Anna, dia kebingungan tak mengerti apa yang sedang aku lakukan. Aku tersenyum. Senyum kebahagiaan dari seorang kakak atas pencapaian seorang adik Biologisnya. Sedih bercampur bahagia, hingga aku tak sadar meneteskan air mataku diatas bait-bait pesan kebahagian. Pilihan Alloh tidak pernah salah Mell, Ghani adalah masa depanmu. Ghani adalah jalan surgamu. Kamu harus bahagia bersamanya, kakak do'akan semoga Alloh menjadikan kalian keluarga yang Sakinah, Mawadah dan Warahmah. Kakak mengerti Kamu bukanlah jawaban dari do'aku Mel, itu berarti Alloh sedang menyiapkan seseorang yang terbaik menurut-Nya

Comments

Popular posts from this blog

Diskusi Bersama DKR Pancalang

Sebuah kehormatan bagi saya bisa memenuhi undangan teman-teman Dewan Kerja Ranting Pancalang Masa Bakti 2025-2028 untuk berdiskusi tentang kedewankerjaan dan Administrasi Dewan Kerja. Mudah-mudahan kehadiran saya menjadi angin segar bagi teman-teman DKR. Pengalaman saya sebagai DKR Pagerageung dan DKC Kuningan mudah-mudahan bisa menambah khazanah keilmuan teman-teman DKR Pancalang, khususnya kedewankerjaan. Saat saya menjabat sebagai Kabid. Kajian Kepramukaan DKC Kuningan, salah satu kegiatan saya adalah memastikan teman-teman DKR sewilayah Kwarcab Kuningan menjalankan tugasnya sebagai wadah pengembangan diri bagi teman-teman T/D di wilayah Kwartir Ranting masing-masing. Tentang terselengarnya pengkaderan dewan kerja, kegiatan Dewan Kerja sesuai aturan yang berlaku dan sebagainya. Hal ini menjadi bahan diskusi saya dengan teman-teman DKR Pancalang. Sore menjelang malam itu kami merasakan kekeluargaan yang sangat hangat. Namun, sangat disayangkan saya tidak bisa mengikuti kegiatan malam...

Langit Tak Selalu Menjawab dengan Cara yang Sama

Poto by unsplash.com/@drphotographer152 Di penghujung malam, aku bermunajat. Memohon agar dibukakan petunjuk atas pilihan yang telah kutetapkan. Bukan dua nama, bukan pula sekadar kemungkinan—melainkan satu nama yang kupilih untuk membersamaiku menyempurnakan separuh agamaku. Aku tenggelam dalam lautan doa. Angin sepertiga malam berembus lirih, keheningan menyelimutiku seperti rahmat yang turun perlahan. Doaku berlanjut selepas azan Subuh berkumandang hingga syuruq menyapa cakrawala. Aku terus memohon keyakinan: benarkah perempuan yang kupilih adalah yang tepat? Perempuan yang kelak akan menyeberangi samudra kehidupan bersamaku, dalam pasang dan surutnya. Mentari pagi merekah. Aku bangkit dari sujud, melipat sajadah dan merapikan mushaf yang kubawa. Langkahku keluar dari masjid terasa ringan. Kukenakan sandal, lalu menyusuri jalan pulang. Udara pagi begitu segar. Atap-atap rumah di perbukitan Jawa Barat tampak teduh, dan kicau burung menyambut hari dengan riang yang sederhana. Sayu...

Teks Sambutan Perwakilan Wisudawan Pada Wisuda Ke-1 STIS Husnul Khotimah Kuningan

  SAMBUTAN PERWAKILAN WISUDAWAN/WISUDAWATI PADA SIDANG SENAT TERBUKA I STISHK KUNINGAN TAHUN 2022   Bismillahirrohmanirrohim Yang Terhormat, Bupati Kuningan,  Bpk H. Acep Purnama, S.H., M.H. Yang Terhormat, Sekretaris Kopertais Wilayah 2 Jawa Barat,  Bpk H. Dr. Usep Dedi Rostandi, MA. Yang Terhormat, Ketua Umum Yayasan Husnul Khotimah Kuningan,  Bpk KH. Mu’tamad, Lc., M.Pd.I Al Hafidz  beserta jajaran Yang Kami Hormati, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Husnul Khotimah Kuningan,  Bpk Dr. Mu’alim, S.Pd.I MA. Yang Kami Hormati,  Pimpinan, Anggota Senat dan Dosen  Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Husnul Khotimah Kuningan. Undangan, Bapak/ Ibu Orang Tua Wisudawan/ Wisudawati serta para Wisudawan/ Wisudawati yang saya banggakan.     Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh   Puji Syukur kehadirat Alloh SWT, karena atas nikmat dan anugerahnya kita dapat dipertemukan dihari yang sangat berbahagia ini, yaitu pada acara wisuda sarjana Sek...