Skip to main content

Awasi Pembelajaran Online Anak


    Di zaman keterbukaan informasi saat ini, berita dan informasi apapun sangat mudah untuk di dapatkan, baik yang positif maupun berita negatif. Keberadaan jejaring sosial mempermudah penyebaran informasi. Akses media sosial yang mudah, membuat kalangan muda tertarik untuk terjun sebagai pengguna aktif. Di Indonesia sendiri pada tahun 2019 tercatat 48% dari populasi merupakan pengguna aktif media sosial. Dari 48% tersebut mayoritas penggunanya adalah kalangan muda atau remaja. Apalagi pada masa pandemi Covid-19 ini semua pembelajaran yang dilakukan remaja baik Sekolah Dasar maupun perguruan tinggi semuanya berbasis E-Learning. E-Learning ini mengharuskan anak memiliki akses yang sangat banyak terhadap media sosial, baik yang digunakan sebagai media pembelajaran ataupun media hiburan.

    Pemberian akses ini akan berakibat pada kebiasaan dan pola interaksi anak. Akan terjadi perubahan pola interaraksi yang signifikan, baik interaksi dengan keluarga maupun interaksi dengan masyarakat sekitar. Perubahan interaksi ini bisa berakibat pada pola pikir anak yang lebih suka berinteraksi dengan media sosial dari pada berinteraksi secara langsung. Akibat yang paling parah adalah anak tidak bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Telah kita ketahui bersama bahwa fungsi interaksi secara langsung bisa mempererat hubungan antar satu dengan yang lainnya. Anak yang jarang berinteraksi baik dengan keluarga maupun dengan masyarakat akan memiliki sikap yang acuh tak acuh. Semua orang tidak dianggap keberadaannya. Jika hal ini terjadi maka akan timbul berbagai macam permasalahan, baik yang diakibatkan oleh anak tersebut dan dirasakan oleh orang lain, maupun yang diakibatkan orang lain dan dirasakan oleh anak itu sendiri. Disinilah dibutuhkan campur tangan orang tua sebagai sosok yang akan menyeimbangkan kegiatan-kegiatan E-learning anak.

    Peran orang tua sangat dibutuhkan untuk perkembangan anak. Apalagi di masa pandemi Covid-19 ini yang mengharuskan semua proses pembelajaran dikerjakan di rumah (E-learning). Orang tua harus mampu beradaptasi dengan sistem keluarga yang baru. Dimana biasanya anak dirumah hanya untuk beristirahat dari lelahnya belajar di lembaga pendidikan, saat ini segala hal terkait pembelajaran ataupun istirahat dikerjakan dirumah. Hal ini mengharuskan orang tua meluangkan waktu untuk menjadi pendamping selama proses pembelajaran online berlangsung, dan pendamping ketika anak tidak belajar online (istirahat). Orang tua dituntut untuk mengawasi anak selama 24 jam.

Peran orang tua tersebut sebenarnya sudah dijelaskan dalam Surat At-Tahrim ayat 6 yang artinya:

Hai Orang-orang yang beriman! peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Alloh terhadap apa yang dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (Q.S At-Tahrim:6)

Dalam ayat ini Alloh SWT dengan tegas mengharuskan orang tua mendidik anak-anaknya. Jika kita aplikasikan ayat ini dengan keadaan sekarang, maka wajib hukumnya orang tua untuk menjaga anak-anaknya agar tidak terjerumus kepada keadaaan yang salah akibat pemberlakuan E-Learning ini, yaitu memanfaatkan situasi untuk lebih banyak mengakses media sosial.

    Orang tua yang merupakan bagian dari sistem keluarga harus mampu mempertahankan keberlangsungan hidup keluarga. Jika salahsatu anggota keluarga ada yang bermasalah, maka akan berakibat terhadap sistem keluarga itu sendiri. Masa Pandemi ini rentan akan permasalahan-permasalahan yang timbul dari anggota keluarga sehingga berakibat pada perubahan sistem keluarga. Salahsatu anggota keluarga yang rentan bermasalah adalah suami-isteri. Permasalahan suami-isteri yang paling banyak terjadi di masa pandemi covid-19 ini adalah masalah ekonomi yang berakibat pada pertengkaran bahkan berakhir dengan perceraian. Kalau sudah begini, yang akan menjadi korban adalah anak-anaknya. 

    Anak-anak yang sudah diberi beban belajar online jika keadaan kedua orang tuanya bermasalah dan berakhir dengan perceraian, maka ini akan menambah beban pikiran anak. Penting bagi sebuah keluarga untuk tetap menjaga keharmonisan dan kestabilan sistem keluarga. Masa Pandemi ini jangan jadikan sebagai beban, tetapi harus kita jadikan sebagai momentum pengokohan keluarga.

Comments

Popular posts from this blog

Diskusi Bersama DKR Pancalang

Sebuah kehormatan bagi saya bisa memenuhi undangan teman-teman Dewan Kerja Ranting Pancalang Masa Bakti 2025-2028 untuk berdiskusi tentang kedewankerjaan dan Administrasi Dewan Kerja. Mudah-mudahan kehadiran saya menjadi angin segar bagi teman-teman DKR. Pengalaman saya sebagai DKR Pagerageung dan DKC Kuningan mudah-mudahan bisa menambah khazanah keilmuan teman-teman DKR Pancalang, khususnya kedewankerjaan. Saat saya menjabat sebagai Kabid. Kajian Kepramukaan DKC Kuningan, salah satu kegiatan saya adalah memastikan teman-teman DKR sewilayah Kwarcab Kuningan menjalankan tugasnya sebagai wadah pengembangan diri bagi teman-teman T/D di wilayah Kwartir Ranting masing-masing. Tentang terselengarnya pengkaderan dewan kerja, kegiatan Dewan Kerja sesuai aturan yang berlaku dan sebagainya. Hal ini menjadi bahan diskusi saya dengan teman-teman DKR Pancalang. Sore menjelang malam itu kami merasakan kekeluargaan yang sangat hangat. Namun, sangat disayangkan saya tidak bisa mengikuti kegiatan malam...

Langit Tak Selalu Menjawab dengan Cara yang Sama

Poto by unsplash.com/@drphotographer152 Di penghujung malam, aku bermunajat. Memohon agar dibukakan petunjuk atas pilihan yang telah kutetapkan. Bukan dua nama, bukan pula sekadar kemungkinan—melainkan satu nama yang kupilih untuk membersamaiku menyempurnakan separuh agamaku. Aku tenggelam dalam lautan doa. Angin sepertiga malam berembus lirih, keheningan menyelimutiku seperti rahmat yang turun perlahan. Doaku berlanjut selepas azan Subuh berkumandang hingga syuruq menyapa cakrawala. Aku terus memohon keyakinan: benarkah perempuan yang kupilih adalah yang tepat? Perempuan yang kelak akan menyeberangi samudra kehidupan bersamaku, dalam pasang dan surutnya. Mentari pagi merekah. Aku bangkit dari sujud, melipat sajadah dan merapikan mushaf yang kubawa. Langkahku keluar dari masjid terasa ringan. Kukenakan sandal, lalu menyusuri jalan pulang. Udara pagi begitu segar. Atap-atap rumah di perbukitan Jawa Barat tampak teduh, dan kicau burung menyambut hari dengan riang yang sederhana. Sayu...

Teks Sambutan Perwakilan Wisudawan Pada Wisuda Ke-1 STIS Husnul Khotimah Kuningan

  SAMBUTAN PERWAKILAN WISUDAWAN/WISUDAWATI PADA SIDANG SENAT TERBUKA I STISHK KUNINGAN TAHUN 2022   Bismillahirrohmanirrohim Yang Terhormat, Bupati Kuningan,  Bpk H. Acep Purnama, S.H., M.H. Yang Terhormat, Sekretaris Kopertais Wilayah 2 Jawa Barat,  Bpk H. Dr. Usep Dedi Rostandi, MA. Yang Terhormat, Ketua Umum Yayasan Husnul Khotimah Kuningan,  Bpk KH. Mu’tamad, Lc., M.Pd.I Al Hafidz  beserta jajaran Yang Kami Hormati, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Husnul Khotimah Kuningan,  Bpk Dr. Mu’alim, S.Pd.I MA. Yang Kami Hormati,  Pimpinan, Anggota Senat dan Dosen  Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Husnul Khotimah Kuningan. Undangan, Bapak/ Ibu Orang Tua Wisudawan/ Wisudawati serta para Wisudawan/ Wisudawati yang saya banggakan.     Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh   Puji Syukur kehadirat Alloh SWT, karena atas nikmat dan anugerahnya kita dapat dipertemukan dihari yang sangat berbahagia ini, yaitu pada acara wisuda sarjana Sek...