Dari sudut kamarku, aku bersujud. Bermunajat pada ilahi, meminta agar do’a ku dikabulkan. Permintaan yang masih sama, Bertemu dengan perempuan yang memanggilku dengan panggilan kesayangan (Gara).
***
Debu, macet, polusi menjadi makanan sehari-hari
bagiku. Pagi itu aku bergegas pergi ke jalan umum menunggu angkutan untuk aku
tumpangi. Seperti biasa, senin sampai jum’at adalah jam-jam sibuk bagi seorang
karyawan sepertiku, apalagi hidup di kota metropolitan seperti Jakarta. Kota
yang segala macam bisa kita jumpai dan temukan. Kota yang segalanya bisa
didapatkan, kota keras, kota perjuangan, kota perantauan bagi yang ingin
memperbaiki tarap kehidupan. Begitupun aku, merantau ke tanah yang katanya
apapun yang kita kerjakan bisa menghasilkan uang. Jakarta, ku simpan harapan
besar.
***
Pagi di sebuah rumah, disudut perkampungan
kumuh di ibu kota, genangan bekas cucian dimana-mana. Cucianpun di jemur terpampang
bahkan sampai kesudut jalan. Tepat pukul 04.00 aku bergegas menuju sebuah
mesjid yang tak jauh dari rumah kontrakan. Masjid yang selalu sepi disetiap
paginya. Hanya ada bah Endun dan mang Ceceng yang selalu setia bersujud
bermunajat disetiap subuhnya. Entah kemana yang lainnya. Aku tak begitu
mengenali lingkungan disini. Pergi ke kantor jam 6.00, pulang dari kantor jam
20.00. waktu ku habis di kantor. Hingga kebiasaan ini berpengaruh pada
pergaulan yang jauh dari pergaulan remaja seusiaku. Remaja yang sedang mencari
jadi dirinya, remaja yang sedang saat-saatnya dimabuk asmara. Menitik karir
mencari cinta. Beribu perempuan di ibu kota tak pernah ada hasrat untuk mencari
celah memasuki hatinya. Begitu banyak perempuan di kantorku tak pernah aku
bertanya adakah harapan dalam dada untuk ku ukir namamu dalam bingkai asmara?
menjalin cinta mengukir rindu dalam asmara.
Seorang gadis rekan kerjaku asli anak sumatera,
seakan memberikan celah untukku ukir sukmanya, ku tusuk jantung hatinya.
Sebagai teman yang akan menemani dalam kerinduan malam. Namun dengan kesibukan
yang aku jalani, tak ada hasrat untuk membalas belaian lembut tangannya yang
mampu membuat syahwat bergejolak bagai gunung berapi yang siap menyemburkan
lahar panasnya. Aku kerja di bagian dapur, sebagai staff pelayanan untuk
karyawan yang kerja banting tulang demi menghidupi sanak saudaranya. Sedangkan
dia bekerja di bagian pelayanan kantor atau lebih dikenal resepsionis.
Wajarlah derajat pekerjaan kita jauh berbeda dan dengan kebiasaanya membuat aku
enggan untuk memilikinya.
***
Bulan ini adalah tepat satu tahunnya aku lulus
dari SMK, begitu juga dengan kenangan yang pernah aku ukir dengan Rani.
Kenangan yang terbayang dikala bintang menerangi indahnya sang malam. Kutatap
langit, berharap diantara ribuan bintang aku bisa menemukan Rani. Bertemu
kembali, melanjutkan cerita yang dulu berhenti diantara sebuah penantian. Dalam
dekapan kerinduan ditemani sejuknya udara malam dan keindahan pemandangan ibu
kota dengan gemerlap cahaya. Dari atap rumah aku menanti kedatanganmu
wahai pujaan hati, bidadari tanpa sayap yang tuhan kirimkan untuk menemani kesendirianku.
Tiba-tiba ponselku berdering, ada kabar tak terduka dari
Bapak Kepala Perusahaan yang banyak orang menyebutnya BOSS Besar.
Entah kenapa dan tak biasanya beliau menghubungiku, dimana perbedaan posisi
yang sangat jauh denganku aku pelayannya sedangkan beliau yang aku layani. Aku
harus datang kerumahnya, di daerah Cibubur. Aku tahu bahwa daerah itu merupakan
komplek perumahan mewah di sekitaran ibu kota. Aku dijemput oleh supir
pribadinya, bak seorang raja dikawal para patih dalam tandu tahtah berlapis
emas. Tak ada pakaian mewah, aku hanya menggunakan setelan kemeja putih dengan
dasi warna merah dan celana panjang hitam dan sepatu pantopel yang hanya
satu-satunya aku punya saat ini. Ketika pak supir memberitahukan bahwa telah
sampai, aku tak bisa berkata apa-apa, hanya diam seribu bahasa. Aku, terhipnotis dengan apa yang aku lihat didepan mata. Ilusi
tapi nyata. Kemegahan yang memancar menyegarkan mata, rumah dengan 3 tingkat yang
berpoleskan cat warna putih kehitam-hitaman, menambah kemegahan, yang kurasa ini
bukanlah sebuah rumah melainkan istana tempat sang putri raja yang akan
kedatangan pemuda kampung dari daratan ibu kota.
“Selamat datang Dimas, di gubuk yang kekuatannya sedikit
berkurang dimakan waktu” sahut bapak Sahid Tanjung pemilik rumah sekaligus
Bos di perusahaanku.
“Terimakasih pak atas sambutannya, mohon maaf saya hanya mampu menghadap dengan keadaat seperti ini” jawabku.
“hahaha sudah-sudah
gak papa, silahkan duduk Dimas” Timbalnya dengan nada yang membuat aku
bertanya-tanya. “teh, ambilkan air buat tamu abi, kasihan nih. Cepet ya
jangan lama”. Lanjutnya
“Maaf pak, ada yang bisa saya bantu? hingga bapak harus
meminta saya datang ke rumah bapak malam-malam”. Tanyaku dengan nada bingung dan gemetaran, kaget dan tak percaya dengan apa yang aku alami.
“Begini Dimas, kamu lulusan SMK kan?” tanya nya. “ia pak”
“Kebetulan, saya punya yayasan di daerah Yogyakarta dan
membawahi 10 lembaga pendidikan. Salah satunya, SMK yang baru berdiri
satu tahun. Kamu mau gak kalau saya kirim kamu ke Yogyakarta untuk mengabdi
di sana? dan sekalian juga kamu saya kuliahkan di sana? Pokoknya kamu tinggal berangkat! Semua keperluan, saya siapkan. Mau engga ?”
“Yogyakarta ?” sedikit tak percaya dan berharap bukan sebuah mimpi belaka yang hanya menjadi bunga tidur dikala malam gelap gulita. Plakssss, ini asli! Bukan mimpi.
“Kuliah ?
Yogyakarta? Gak salah nih pak, memberikan suatu kepercayaan kepada saya?” sambungku dengan terbata-bata.
“saya yakin kamu bisa. nanti kalau lulus kamu jadi penerus
di sana. Mau engga?”
“i...........” tak sempat menjawab, tiba-tiba
pandanganku terkaburkan oleh sosok perempuan dengan gaun yang indah nan cantik
bagaikan putri kerajaan yang anggun nan menawan. Dia datang dari arah dapur, seakan menghampiriku, memandangku. Berdetak jantung seakan tak percaya
bercampur bahagia. “Rani.........?” sahutku “Gara.........!”
Jawabnya.
seketika suasana mencekam. diam tak ada katapun terucap diantara kami bertiga
“jadi kalian sudah saling kenal?” sahut pak Sahid memecah keheningan.
“jadi,
Rani ini anak Bapak?” jawabku.
“Dimas ini alumni Suryalaya pak, aku di MA, dia di SMK. Tapi
kita pernah satu Pondok. Jadi saling kenal. Kita juga satu Organisasi”
Sahut Rani dengan raut wajah cemas dan kaget.
Aku tak percaya kalau Rani anak dari orang pemilik perusahaan ternama di ibu kota, yang perusahaannya memiliki cabang di seluruh Indonesia. Bahkan kabarnya, satu cabang di Amerika dan satu cabang di Belanda. Dan sekarang sedang membangun cabangnya di Singapura. Aku bahagia bisa kuliah di yogyakarta namun disisilain aku merasa tak enak dengan Rani, yang dulu pernah aku anggap sebagai teman dalam mengarungi kehidupan masa SMA. Suka duka kehidupan pernah kita lalui bersama, hingga timbul satu rasa, rasa dimana dunia dan seisinya hanya milik kita berdua. Berbalut kasih berselimutkan rindu. Berjalan beriringan di batas antara kota santri dan kota dengan ciri khas ungu.
Maafkan aku Ran, jika dulu aku pernah berlabuh di pelabuhanmu. Menyandarkan harapan kepadamu. Kini aku tahu, kita ibarat langit dan bumi. Sesuatu yang mustahil untuk bersatu.

Comments
Post a Comment