Disana,
ada seguyur Hujan dan Seuntai Bunga,
yang sedang Berbincang
tentang Pahitnya sebuah PAMIT
Tentang Sunyinya sebuah SEPI..
Disana, ada sebuah kapal kecil di pelabuhan,
Yang tengah bercengkrama,
Tentang rasa yang tidak tersampaikan,
Tentang asa yang kian memudar.
Disini, ada seorang insan,
Yang tengah menadahkan tangan,
Menghadap Sang Pengarang,
Akan harapan yang terbuang.
Disini, ada seorang puteri,
Menyesali takdir seraya memaki,
Menginyam rasa tanpa peduli,
Tentang cinta terpendam di dalam hati
Puisi: www.popbela.com
Yogyakarta menjadi saksi cerita, Dua insan yang saling menyimpan rasa. Rasa yang tak pernah saling diungkapkan, cukup disimpan dalam hati yang tak mungkin bisa tergantikan.
Tak bisa dipungkiri, aku terjebak dalam keindahan hati sosok lelaki idaman. Idaman semua Mahasiswi. Bukan hanya di kampusnya, atau di Kampus ku, melainkan seantero kota Yogyakarta. Se-Kota Yogyakarta tahu siapa sosok lelaki ini.
Mungkin aku lah salahsatu perempuan yang paling beruntung, dekat dengannya sejak masih di bangku sekolah. Aku memang sudah dekat sejak SMA, Bahkan aku sudah dianggap sebagai adiknya. Hampir setiap pekan kita bertemu, entah berdiskusi atau hanya sebatas minum kopi, menghibur diri atas kejenuhan penaknya tugas-tugas sekolah.
***
12 bulan bukanlah waktu yang sebentar bagiku. Hidup seorang diri di negeri orang-orang asing yang terkenal dengan sejarahnya. Sejarah kaum yang ditakuti dunia. Aku menjalani hidup seorang diri sebagai orang muslim. Teman-teman kampusku mayoritas non muslim. Aku tahu, ini sangat berat. Tapi aku siap dengan konsekuensinya. Untuk mencari jalan keluar dari penaknya lingkungan disini, aku bergabung dengan komunitas muslim. Mencoba menandingi ideologi kampus yang aku terima.
Menjadi hal lumrah bagi setiap mahasiswa teknik, aku harus magang di salahsatu perusahaan teknik. Alloh masih sayang denganku, aku dipertemukan dengan pemilik perusahaan yang satu agama. Aku tahu beliau muslim dari seorang cleaning service yang muslim juga.
Proses magangku berjalan lancar hingga aku berhasil menyelesaikan studi S2 ku disini. Keluarga ku di Yogyakarta ikut bahagia karena aku berhasil menyelesaikan studi dalam jangka waktu singkat dan Cumlaude. Teman-teman seangkatan yang sama-sama kuliah disini juga ikut merayakan kebahagiaan ku. Diantara kebahagiaan ku ada sosok lelaki yang selalu mensupport, membantu, menemani, bahkan berdiskusi disetiap jenjang permasalahan tugas kuliah ku. Dia satu jurusan denganku. Sama-sama dari Indonesia, hanya beda daerah saja. Aku dari Yogyakarta dia dari Samarinda. Dia memberikan hadiah untuk ku. Hadiah yang setiap perempuan tunggu-tunggu. Hadiah yang menggetarkan semua lini kehidupan. Dia melamar ku tepat di depan aula tempat ujian tesis ku. Mencekam menjadi hening, suasana tiba-tiba memecah pesta kebahagiaan. Semua orang terdiam, menanti sebuah jawaban. Jawaban yang aku saja tidak tahu harus menjawab apa, apa yang harus aku katakan? Apa yang harus aku ungkapkan? Aku bingung. Ucapan ini seakan menghentikan denyut nadi ku. Memaksa aku diam, memikirkan sebuah hal untuk menampung aspirasi agar menjadi sebuah jawaban. Bayangan ini tidak karuan, terpikir semua hal. Termasuk Gara! Lamunanku kini entah kenapa hanya fokus pada sosok lelaki yang menghantarkan ku di ujung gerbang Soekarno-Hatta dua tahun silam.
***
Aku bergegas, menyiapkan segala keperluan untuk di Jerman. Satu hal yang tak lupa aku bawa, buku harian. Buku yang menyimpan semua cerita indah aku dan Gara. Hanya berjaga-jaga takut rindu datang melanda. Aku hanya membawa satu koper besar dan tas pemberian Gara. Gara sudah menunggu sedari tadi pagi. Dia ikut membantu persiapan ku. Gara begitu indah untuk dipandang. Dia lelaki yang sangat berharga bagi ku setelah ayah. Dia selalu ada, apa lagi setelah aku memutuskan untuk kuliah di Yogyakarta, kita selalu bersama. Ayahku pernah memberikan rumahnya yang deket dengan UII untuk di pakai gara, tapi gara menolaknya. Dia lebih betah tinggal di asrama kampus. Katanya sih biar deket ke Majelis. Hal yang paling aku ingat dari sosok gara adalah ketika aku prustasi dengan nilai salah satu mata kuliah yang sangat kecil, hanya 85. Biasanya nilai mata kuliah ku tidak kurang dari 93. Gara memotivasi ku agar aku tetap bersyukur dengan apa yang telah aku raih, walaupun hasil itu diluar targetku. Dia mengajak ku untuk mengunjungi satu desa di daerah Kediri, bersama teman-temannya dia berencana untuk memonitor perkembangan BMT yang mereka bangun di desa tersebut. Aku sungguh terkejut dengan apa yang gara dan teman-teman lakukan. Di dalam jadwal kuliahnya yang padat, mereka mampu mengalokasikan waktunya untuk mengabdi kepada ummat. Gara bercerita bahwa diantara teman-temannya yang terlibat dalam pendirian BMT ada yang pernah dapat nilai 85. Bahkan gara lebih parah, dia dapat nilai 75. Apa yang mereka lakukan ketika dapat nilai segitu? Mereka bersyukur dengan apa yang mereka dapat. Kemudian di waktu luang mereka segera bersilaturahim secara bersama-sama ke dosen yang memberikan nilai. Mereka meminta penjelaskan atas apa yang membuat mereka dapat nilai dibawah rata-rata. Ternyata mereka kekurangan nilai dari kehadiran. Dua pertemuan, mereka tidak bisa hadir karena harus membersamai Menteri Koperasi dan UMKM untuk meninjau desa yang akan menjadi desa percontohan. Desa tersebut berhasil mendapatkan suntikan dana hibah untuk pengelolaan BMT. Proposal pengajuan dana yang di ajukan oleh mereka berhasil mendapat perhatian dari Kementerian Koperasi dan UMKM. Karena itulah mereka tidak bisa mengikuti dua pertemuan perkuliahan. Kemudian mereka melanjutkan dengan mempresentasikan program BMT di desa yang sedang mereka kelola. Alhasil dosen yang memberikan nilai tersebut justru mengajukan diri untuk terlibat dalam program tersebut. Apa yang terjadi dengan nilai mereka dan program BMT mereka? Mereka diberi nilai Sempurna dan BMT yang mereka kelola sekarang mampu memajukan perekonomian Ummat, khususnya masyarakat desa tersebut.
Gara menjelaskan bahwa apapun hasil yang kita terima harus disyukuri, dan kita harus mampu memperbaikinya. Dari sanalah aku merasa bahwa gara adalah malaikat yang Tuhan kirimkan untuk menemani perjalanan hidupku.
***
Langit mulai meneteskan kesedihannya. Angin mulai meniupkan kepiluannya. Mentari pergi seakan tak sanggup untuk mengemban beban kehidupan. Rembulan tak sanggup menampakan kepedihannya. Kini, senja mencekam. Mematahkan lamunanku akan sosok gara yang selalu menjadi harapan disetiap do'aku, harapan untuk menjadi bagian dari hidupnya. Do'a yang selalu ku panjatkan disetiap seperti malam, sepertiga malam yang menjadi teman untuk memadukasih dengan sang pencipta.
Mulut sekaan terpaku tatkala semua orang menanti keputusanku. Keputusan yang akan menggetarkan seluruh jagat raya. Inikah jawaban dari setiap do'a-do'a ku? Gara, apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku terima lamarannya, memendam dalam-dalam namamu dan kisah kita?

PILIHAN YANG SULITT, TOLONG PILIH AJA GARAðŸ˜
ReplyDeleteTerkadang, pilihan itu bisa menyakitkan.
Delete