Cerita ini aku mulai dari sebuah surat. Sekedar bertanya biasa, Komunikasi semestinya antara junior dan senior. Sebut saja dia kak Gara. Kak Gara ini senior aku di sekolah. Aku kelas 10 dia kelas 12. Kak Gara adalah lelaki yang banyak disukai oleh siswi di sekolahku bahkan di luar sekolah. Kak Gara juga aktif di berbagai organisasi baik di dalam lingkungan sekolah maupun luar lingkungan sekolah. Tak heran jika dia banyak pengagumnya. Dan salahsatu diantara ratusan pengagum kak Gara adalah aku. Perempuan berkebangsaan Malaysia namun besar di Jakarta. Jakarta bagiku sudah biasa dengan kehidupan glamor dan poya-poyanya. Namun berbeda 180 derajat dengan kehidupan di lingkungan sekolahku. Sekolahku berada dilingkungan yang memegang adat dan tradisi nenek moyang. Dengan ke-khasannya, lingkungan ini di kenal dengan kota santri. Aku gak tahu kenapa ayahku menyuruh aku sekolah dilingkungan yang baru. Lingkungan yang asing bagiku. Awal aku kesini, aku bak orang asing yang tak dianggap disini. Pernah suatu cerita aku dan keluargaku daftar sekolah, aku datang dan melihat langsung bagaimana fisik dan budaya lingkungan sekolah disini. Tak ada seorangpun percaya bahwa aku, perempuan jakarta yang biasanya hidup di cafe-cafe, gaul dengan lingkungan bar kini akan bersekolah dan hidup di lingkungan yang orang bilang sebagai penjara suci. Banyak yang melihatku dengan pandangan sinis. Aneh mungkin ya, kok ada yang berani masuk ke lingkungan ini dengan pakai seperti itu. Ah sudahlah, aku berpikir sepertinya ibu tidak akan membiarkan aku hidup menderita di tempat seperti ini. Ibu pasti tahu penderitaanku jika aku di sekolahkan disini. Namun takdir berkata lain, ayah, ibu justru menandatangani formulir pendaftaran siswa baru. Aku diajak keliling lingkungan sekolah. Sekolah ini memiliki masjid yang sangat luar biasa dan megah. Lapangan parkir dan lapangan olah raga berstandar nasional. Ada taman bacaan, taman yang di desain untuk siswa-siswi agar nyaman membaca dan berdiskusi. Aku lihat ada bangunan yang aneh dalam pandanganku. Kok ada bangunan seperti ini di lingkungan sekolah. Mereka bilang itu adalah bangunan Asrama. Mereka menjelaskan bahwa itu merupakan bangunan untuk para siwa dan siswi tinggal. “Apa? Jadi aku harus tinggal di dalam lingkungan seperti ini. Gak ada cafe, Mall, Restauran! Ibu, Ayah. Benarkah kalian akan membiarkanku hidup di lingkungan seperti ini?”. Aku merasa kesal dengan keputusan keluargaku. Aku benci ayah, aku benci ibu. Kenapa mereka setega ini? Membiarkan anaknya hidup menderita. Bagaimana aku harus hidup di dunia yang bukan duniaku? Bagaimana aku hidup di lingkungan yang bukan lingkungan ku? Entahlah, Apa yang akan terjadi selepas keluargaku membiarkan aku hidup disini. Baru datang saja banyak yang melihat ku seperti itu, bagaimana nanti? Aku diberi buku panduan Orientasi Siswa Baru oleh seorang lelaki yang berpakaian aneh. Berdasi, baju di ke dalamkan, rambut ya,,bisa dikatakan rapih. Wajahnya sih lumayan ya setara dengan wajah Alex, kekasihku di Jakarta. Dia tersenyum padaku namun tak aku balas. Di mengulurkan tangannya, namun aku hiraukan. Ayahku menepuk pundak ku, mungkin ayah marah melihatku menghiraukan uluran tangan lelaki itu.
***
Sore ini menjadi sore yang kelam bagi ku. Aku kesal pada senja, kenapa membiarkan aku meninggalkan kota ini? kota yang membuatku menjadi diriku sendiri. Sejak pulang dari kota itu, aku tidak bicara pada siapapun. Aku hanya bicara pada Alex. Kekasihku yang menjadi satu-satunya pelarian ku. Alex marah besar ketika aku ceritakan semuanya. Bahkan Alex hampir menamparku, kalau saja tangan Bryan tidak cepat menahan Alex, mungkin pipiku sudah memar. Aku jelaskan apa adanya pada Alex namun Alex tidak terima. Alex mengancam akan memutuskan ku jika aku pergi meninggalkan Jakarta. Aku bingung harus bagaimana lagi. Alex adalah kekasih ku yang sudah menemaniku sejak 3 tahun silam. Tapi disisi lain aku harus patuh pada keluaraga ku. Selama ini aku baru mendapatkan tekanan yang begitu besar dari ayahku. Biasanya ayah tidak seperti ini. Ayah selalu membiarkan aku hidup dengan lingkungan dan gaya hidup ku. Ayah juga mendukung apa yang aku kerjakan dengan teman-temanku. Ayah juga membiarkan aku berpacaran dengan Alex. Namun beda kali ini. Ayah sangat serius dan menekan aku harus menuruti apa yang dia inginkan. Dari Jakarta hingga aku dan keluargaku sampai di tempat tujuan, aku tidak bicara sepatah pun. Hanya tetesan air mata yang menandakan bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Keluargaku menghantarkan ku ke dalam asrama yang akan menjadi tempat bermainku kedepannya. Ibu tersenyum kepadaku, menguatkan ku. Sesama perempuan ibu pasti tahu apa yang sedang aku rasakan. Dia hanya mengangguk sembari mengusap air mataku. Ayah, dia hanya meyakinkanku bahwa aku pasti bisa menjalani kehidupan baru ini. Satu hal yang baru aku lihat dari sosok ayah, dia meneteskan air matanya. Aku gak tahu apa artinya semua ini. Apakah air mata ayah ini menandakan kesedihannya membiarkan aku disini? Tapi kenapa ayah setega ini! membiarkan aku menangis meratapi slkehidupan apa yang akan aku jalani selanjutnya. Air mataku tak bisa terbendung ketika melihat mereka berjalan keluar membiarkan aku hidup disini.
***
Subuh ini aku terbangun dari mimpi yang sangat aneh. Nenek ku datang di antara mimpi-mimpi ku. Aku beranjak bangun melihat sekeliling sudah kosong tidak ada seorangpun. Ini baru jam 4 pagi, kemana yang lainnya? Aku sadar, ini bukan rumahku, ini asrama yang dibilang perempuan itu. Aku coba mencari seseorang yang bisa menjelaskan kemana semua orang disini. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, seorang perempuan kira-kira seumuran denganku membuka pintu dengan perlahan memastikan aku tidak terganggu dengan kehadirannya. Tatkala dia melihatku, dia malah tersenyum. Aku gak tahu kenapa dia tersenyum. Dia tiba-tiba menarik tangan ku dan menarik entah kemana tujuannya. Ku lihat cahaya lampu di bangunan yang megah dan mewah, aku tak tahu itu apa karena mata ku masih sedikit ngantuk. Diluar dugaan ku, para siswi sekolah ini sedang menyambut ku dengan sambutan yang sangat luar biasa. Sambutan selamat datang yang tak pernah ku rasakan selama ini. Aku bahagia, tapi juga malu. Bahagia karena mereka ternyata tidak sejahat yang aku bayangkan. Dan malu karena aku masih berbalut baju yang sedari kemarin belum aku ganti. Mereka memeluk ku satu persatu sembari mengucapkan kata salam. Aku menangis, takut, malu dan bahagia bercampur menjadi satu. Seorang perempuan paruh baya tiba-tiba memasangkan kerudung di kepalaku sembari berkata “Selamat datang nak. Ayah mu tahu apa yang kamu butuhkan. Ibu mu tahu apa harus diberikan. Selamat Datang di Pondok Pesantren. Tempat yang akan menyelamatkanmu dari segala cambuk dosa-dosa mu. Tempat yang akan menjadi lahan mu membahagiakan kedua orang tuamu. Selamat Datang na”. Aku dicium dan dipeluk olehnya. Aku menangis, hingga air mataku membasahi kerudung yang dipasangkan oleh perempuan itu. Semua orang terlihat bahagia atas kedatanganku. Tersenyum sembari mermunajat menyambut ku dengan sholawat.
***
Tak terasa, sudah 2 pekan aku disini. Selama dua pekan ini aku tidak diperkenankan untuk mengikuti kegiatan belajar. Aku harus mengikuti tarbiyah, semacam orientasi kewanitaan. Ini khusus dilingkungan asrama akhwat. Semua siswi baru wajib mengikuti acara ini. banyak hal yang aku dapatkan dari tarbiyah ini. Aku jadi semakin yakin, ayah tidak salah menyuruhku tinggal disini. Aku juga semakin mengenal diri sendiri, mengenal potensi yang aku miliki. Aku dibimbing oleh seorang guru untuk mengasah potensi ku sebelum aku melakukan Orientasi Pesantren. Ya bisa dibilang orientasi keseluruhan. Orientasi ini akan dihadiri oleh seluruh siswa dan siswi yang ada di sekolah ini. Baik putera maupun puteri. Aku memang suka sastra, banyak buku-buku sastra di rumahku di jakarta. Dari novel sampai ensiklopedia sastra barat ada dirumahku. Tapi disini berbeda. Sastra yang lebih ditonjolkan adalah sastra timur tengah, seperti syair dan lainnya. Ada juga novel-novel karya ulama-ulama timur tengah. Salahsatu novel yang aku sukai adalah kisah Laila Majnun dan Aladin. Dua kisah ini sangat aku sukai karena alur cerita dan makna yang di kandungnya sangat bagus dan bisa dikatakan masih relefan dengan keadaan sekarang. Pagi ini aku dan 300 siswi baru lainnya sedang mendapatkan pengarahan dari kepala pondok puteri. Pengarahan tentang bagaimana nanti proses belajar dan bagaimana hubungannya antara sekolah dan pondok puteri ini. Sekitar setengah sepuluh siang kami diharuskan untuk berkumpul di aula sekolah. Aula yang sangat luas dan megah. Kira-kira bisa menampung 2000 sampai 3000 siswa. Hari ini aku bahagia sekali. Setelah satu bulan penuh di area pondok puteri, akhirnya aku bisa merasakan udara dan lingkungan yang di idam-idamkan oleh banyak siswa dan siswi disini. Aku dan sahabat dekatku Rani, di nobatkan sebagai perwakilan dari pondok puteri untuk menerima penghargaan atas apa yang sudah di raih selama proses tarbiyah kemarin. Aku disuruh menyiapkan teks sambutan oleh seorang lelaki yang berada disamping kepala sekolah. Aku merasa pernah melihat lelaki tersebut tapi pikiranku terbuyarkan atas tugas yang harus aku siapkan. Aku sangat bangga bisa bicara dihadapan 700 siswa-siswi baru sekolah ini. aku dan Rani tersenyum bahagia dengan apa yang telah kita dapatkan. Teman-teman asrama banyak yang mengucapkan selamat atas penghargaan ini. kita tertawa bahagia, sampai-sampai MC pemperingatkan agar tidak gaduh dan berisik. Aku malah tertawa, begitupun Rani. “Selanjutnya, sambutan dari ketua OSQI, Kepada yang terhormat Saudara Dimas Anggara Permana, kami persilahkan” suara MC mengingatkan kepada ku akan acara yang sedang berlangsung ini. Aku dan Rani akhirnya tutup mulut untuk mendengarkan sambutan dari Ketua OSQI, OSQI ini kalau di sekolah umum namanya OSIS. Aku menyimak apa yang diucapkan dalam sambutan ketua OSQI ini. Aku mulai penasaran dengan sambutannya karena bagiku ini sangat bagus buat disimak. Aku sengaja melihat layar monitor agar bisa lebih jelas melihat sosok Ketua OSQI ini. aku terkejut ketika aku menyadari orang yang sedang berbicara didepan itu adalah laki-laki yang dulu pernah mengulurkan tangan ketika aku baru saja datang di sekolah ini. Aku tak menyangka apa yang sedang aku lihat dan saksikan ini. Aku makin penasaran dengan ketua OSQI ini setelah Rani menjelaskan sosok laki-laki itu. Aku tersenyum sendiri setiap malam, memikirkan pandangan hari itu, pandangan kita saling bertemu. Pandangan yang membuat hari-hari bermakna. Hari itu menjadi awal kedekatan aku dan kak Gara. Awal mengukir sebuah cerita. Awal menggoreskan tinta-tinta sejarah. Aku terpilih menjadi wakil ketua OSQI yang mengurusi siswi pondok Puteri. Ini lah awal aku mengenal sosok Kak Dimas Anggara Permana. Sosok yang menjadi panutan. Sosok yang menjadi motivasi disetiap hari-hari ku. Sosok yang menjadi teman diskusiku,. Sosok yang mengantarkan ku menjadi juara Olimpiade Sains Nasional. Aku bahagia dan bangga menjadi salah satu bagian di kehidupan kak Gara.
***
Kumbang tak akan salah memilih bunga sebagai teman bermainnya. Purnama tak pernah bersalah menemani keheningan malam. Mentari pun tak pernah menyesal selalu membersamai siang. Namun beda dengan diriku. Aku merasa salah memandang semua ini. Aku terlalu membawa perasaan dengan apa yang aku terima dari sosok panutan ku. Aku bodoh, terlalu menganggap semua ini sebuah cerita yang khusus aku dan dia coretkan sebagai bagian dari ukiran kehidupanku. Aku bodoh menggapnya menyukaiku. Aku terlalu percaya diri hingga aku lupa siapa diriku? darimana asalku? bagaimana ceritaku? Aku hanya bisa menangisi atas apa yang aku lakukan. Aku menyesal. Maafkan aku kak, Maafkan aku. Maafkan atas kelancanganku mengungkapkan perasaanku pada kakak. Aku memang perempuan bodoh. Tak sepantasnya aku mencintai laki-laki seperti kakak. Biarkan ini menjadi sebuah cerita. Cukup aku, kak Gara dan Tuhan yang tahu.

Comments
Post a Comment