Namanya Melly Subandono, kelahiran Yogyakarta dan besar di Kuningan. Dia besar dibawah asuhan sang nenek, dilingkungan yang sangat memegang teguh prinsip hidup. Neneknya terkenal dengan keilmuan dan kesopanannya sebagai Dosen Matematika di salahsatu Kampus di Kota berlambangkan kuda ini. Ibu dan bapaknya Dosen disalahsatu Kampus di Yogyakarta. Dia pernah sekolah di sekolah ternama di Kuningan, salahsatu sekolah favorit di kota tersebut. Dia orangnya ngeselin, Kadang dia suka gak jelas tingkahnya. Tapi dia pintar. Apa yang dia inginkan pasti akan diperjuangkan mati-matian. Contohnya ketika dia kekeuh ingin masuk UGM. Salahsatu Universitas Negeri di Yogyakarta. Dia ikut SNMPTN tapi gagal, ikut SBMPTN gagal juga. Bahkan dia juga pernah coba peruntungan dengan ikut Ujian Mandiri.
***
Aku seorang karyawan di sebuah perusahaan ternama di kota Bandung. Setelah lulus kuliah dua tahun silam, aku langsung direkrut oleh perusahaan tersebut tanpa melewati tes masuk. Mungkin mereka mengenalku karena aku aktif di berbagai kegiatan Mahasiswa Pegiat Ekonomi Islam. Sewaktu kuliah dulu, aku memang menjadi bagian terpenting dalam pergerakan Ekonomi. Banyak hal-hal yang aku buat, salahsatunya lahirnya Koperasi di 10 Desa yang menjadi Desa binaan Mahasiswa Ekonomi Islam Universitas Islam Swasta di Yogyakarta. Selain dari itu, aku juga berhasil membangun sebuah usaha dengan nama Storeri. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Fashion. Aku membangun ini dengan tiga orang rekan sesama pegiat Ekonomi Islam. Ridwan, Imam dan Bagus. Mereka bertiga sama-sama Mahasiswa Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika. Aku juga membangun Baitul Mal Wa Tamwil (BMT) di salahsatu Pondok pesantren di daerah Bantul. Salahsatu pencapaian ku yang paling berkesan adalah menjuarai Lomba Bisnis Plan di Bank Indonesia Yogyakarta. Itu mungkin yang melatarbelakangi aku bisa bekerja di perusahaan ini sekarang.
Owh ia, aku lupa belum berkenalan. Perkenalkan, namaku Dimas Anggara Permana. Aku kelahiran Tasikmalaya, besar juga di Tasikmalaya. Aku pernah sekolah di salahsatu SMA Negeri di daerah Cilimus. Salahsatu sekolah di Kaki Gunung Ciremai. Aku aktif di berbagai organisasi. Dari 8 Organisasi yang aku tekuni hanya satu yang aku sukai, yaitu Pramuka. Disinilah aku mengenal Melly, seorang perempuan yang sudah ku anggap sebagai adikku sendiri. Adik yang selalu menemani di setiap hembusan nafasku, membersamai di setiap langkah kakiku.
2013 adalah awal aku mengenal Melly. Waktu itu, dia masih kelas 10 SMA dan aku sudah masuk kelas 11 SMA. Kita sama-sama mengikuti kegiatan Raimuna yang diadakan oleh DKC Kuningan. Aku dan Melly bertemu karena sebuah ketidaksengajaan. Waktu itu Melly kebelet ingin buang air. Pas kebetulan, ditempat acara Sub Camp Survival hanya ada aku dan Melly, karena yang lainnya sudah mulai kembali ke perkemahan. Dia terus saja merintih menahan sakit sambil memegang bajuku hingga hampir terjatuh. Akhirnya aku beranikan diri untuk mengantarnya ke daerah perkebunan yang di daerah tersebut ada sebuah gubuk tua. Kalau dilihat dari bentuk bangunannya, kemungkinan besar itu rumah penjaga perkebunan tersebut. Dengan rasa takut dan was-was, Akhirnya Melly bisa ikut buang air ke WC pemilik rumah tersebut. Selepas kegiatan tsb, akhirnya kita saling bertukaran nomor WhatsApp, dan berkomunikasi selayaknya teman biasa.
Sesekali, aku bermain ke rumah neneknya Melly, sekedar berbagi cerita, mengukir sejarah, hingga tumbuhlah sebuah perasaan yang dirasakan oleh setiap lelaki, ketika berhadapan dengan perempuan. Apalagi di momen yang pas dan nuansa yang sangat romantis, di temani oleh alunan musik dan heningnya malam.
Malam itu Melly mengajak aku untuk menemaninya mengerjakan tugas. Tugas mata pelajaran Ekonomi. Mata pelajaran yang aku suka. Dia memang kurang suka dengan mata pelajaran ini, pelarian nya ya ke aku. Sebagai teman diskusi dan bertukar pikiran, Melly menikmati malam itu. Dia tipe perempuan tomboi yang tidak suka pakai kerudung, walau sudah aku jelaskan beribu-ribu kali bahwa perempuan itu harus pakai kerudung, agar terlihat sosok perempuannya. Tak sengaja rambutnya terurai oleh angin yang masuk lewat jendela, yang sedari tadi terbuka. Ditambah senyumannya yang seakan merobek Sukma, mencoret-coret dinding hati, membuka cakrawala pemikiran. Ternyata, seorang Melly Subandono yang selama ini aku anggap sebagai adikku, Cantik bak seorang Puteri dari kerajaan nun jauh disana. Namun tamparannya mengingatkanku atas apa yang sudah terpikirkan. "Plaksss Woy kak, ini tugas gimana?.
***
Dua tahun sudah kita melewati bersama. Hari ini, hari perpisahan aku di sekolah. Aku sengaja meminta Melly untuk hadir, karena kedua orang tuaku tidak bisa hadir. Mereka harus mengurus dagangannya di pasar. Hingga waktunya tiba, aku harus pamit, meninggalkan Kuningan untuk mengejar cita-cita menambah literatur tentang apa yang aku geluti. Aku pamit ke Melly, aku harus pergi ke Jogja, aku diterima sebagai mahasiswa Universitas Islam terbesar di Yogyakarta dan mendapatkan beasiswa dari Pemerintah pusat lewat Program Beasiswa Bidikmisi. Aku mengambil Jurusan Ekonomi Islam. Aku tertarik dengan Biografi seorang sahabat nabi yang terkenal dengan kekayaannya.
Selepas aku meninggalkan Kuningan, Melly jadi sering pulang ke Jogja. Ibunya pernah bilang "Gara, semenjak kamu kuliah di sini, Melly sering pulang ke Jogja bertemu dengan keluarga di Jogya". Melly juga sering mengajakku keliling kota Yogyakarta, hanya sekedar menikmati megahnya kampus-kampus yang berdiri kokoh di kota yang terkenal dengan sebutan Kota Pelajar. Suatu hari, Melly mengajakku berkeliling kota Yogyakarta. Aku sudah jelaskan padanya, bahwa aku tidak bisa mengantarkannya, karena waktu itu berbarengan dengan Rapat Mahasiswa Pegiat Ekonomi Islam Yogyakarta, Namun dia bersikukuh. Akhirnya aku batalkan agenda rapat tersebut dan menemani Melly keliling kota Yogyakarta.
Enam bulan kemudian, aku juga harus membatalkan agenda Konsolidasi dengan beberapa Organisasi kampus, hanya untuk menemani Melly mengunjungi Universitas Gajahmada, Kampus yang paling dia sukai, dan ada rencana untuk dia melanjutkan studi di sana. Kebetulan, tahun ini Melly kelas 12, dia sedang mencari-cari referensi kampus untuk studi selanjutnya. Dia juga berencana akan pindah ke Yogyakarta tinggal bersama kedua orang tuanya. Dia juga mengajak neneknya untuk tinggal di Yogyakarta. Namun neneknya menolak, dia lebih suka di Kuningan.
***
Hari ini, matahari begitu panas. Sepulang dari kampus, aku mengajak Melly untuk main ke Malioboro. Menikmati sore di sana. Selepas magrib, kita makan disebuah angkringan, angkringan yang aku dan sahabatku bangun, untuk mahasiswa yang ingin kuliah sambil berjualan. Malam itu, malam yang indah untuk aku nikmati bersama Melly. Ingin rasanya ku utarakan apa yang aku pendam sejak bangku SMA dulu. Namun nampaknya, Melly sedang fokus dengan HP nya. Aku merasa Melly sedang tidak ingin diganggu dengan apa yang sedang dia kerjakan. Akhirnya aku batalkan niatku dan aku coba menyibukan diri dengan membaca Buku Esensi Pada Ekonomi Makro.
Saat ini Melly sudah masuk kampus yang dia inginkan, mengambil konsentrasi Teknik Industri. Aku juga heran kenapa perempuan masuk jurusan yang mayoritas laki-laki. Katanya sih, dia suka dengan matematika. Lah, kenapa gak masuk jurusan matematika saja? Ah sudahlah. Itu urusan dia, toh dia juga nyaman dengan jurusannya.
Sekarang sudah tahun ketiga aku di Yogyakarta, dan sekarang sedang menyusun tugas akhir. Aku ngambil Semester Pendek di kampus. Sehingg, di tahun ketiga bisa nyusun. Melly masih tingkat 2, itu berarti selisih kita jadi dua tahun. Selama di Jogyakarta aku selalu menemani Melly. banyak teman-teman aku di kampus, yang menganggap kita pacaran. Temen-temen Melly juga beranggapan seperti itu. Tapi tatkala hal itu ditanyakan ke Melly, dia selalu berdalih "Bang Gara adalah kakakku".
***
Aku duduk di kursi paling depan. Bersama mahasiswa lain yang mendapat penghargaan sebagai mahasiswa teladan dan aku mendapatkan IPK Cumlaude. IPK tertingi di kampusku. Wisuda tahun ini sangat spesial bagiku, keluarga dari Tasik bisa menyaksikan aku mendapat penghargaan Sebagai Mahasiswa Teladan Universitas Islam terbesar ini. Begitupun Melly dan keluarga. Mereka berkenan menghadiri hari spesial dalam sejarah perjalanan hidupku. Ada yang aneh dari sosok Melly. Tak biasanya Melly bergaun dan berjilbab. Seluruh tubuhnya tertutup kain berwarna abu dengan manik-manik menghiasi sebagian kain bagian depan. Keindahan sosok hawa ciptaan tuhan ini, membawa harmonisasi dalam hidup masa depan. Membuyarkan pandangan mata, melejit ke sukma pemikiran paling dalam. Andai, Melly adalah pendamping perjalanan hidupku. Namun lagi-lagi aku tersadar, Melly hanyalah adik tingkat yang selama ini menganggap aku hanya sebatas kakak Biologisnya.
***
Tahun ini Melly berhasil meraih gelar Sarjana Teknik. Tugas akhir yang dia buat sungguh luar biasa. Tak tanggung-tanggung, IPK dia nyaris sempurna, 3,99. Itu pencapaian luar biasa bagi seorang mahasiswi Teknik. Malam ini aku dalam perjalanan menuju Yogyakarta, menggunakan Kereta Api jurusan Bandung-Surabaya. Sudah ku siapkan kado terindah sebagai tanda Syukur atas apa yang sudah dia raih. Acara wisudanya hari Kamis, tapi aku sengaja berangkat hari Sabtu, agar bisa keliling mengunjungi teman lama dan melihat beberapa usaha yang dulu pernah aku bangun.
Hanya dua tahun, Yogyakarta bisa membangun dirinya menjadi lebih baik. Begitupun kampus-kampus. Tak lain kampus aku sendiri, suguh aku terkesima dengan berbagai pencapaian dan terobosan barunya.
Jam sudah menunjukan pukul 08:30. Aku berangkat dari hotel menuju UGM menggunakan jasa Ojek Online. Ternyata acara sudah dimulai, aku bergegas menuju meja registrasi dan memasangkan nomor undangan, kemudian langsung masuk ke Graha Sabha Pramana. Samar-samar aku mendengar nama Melly Subandono di kumandangkan. Ku tatap, sosok perempuan anggun berkebaya putih, berjalan menuju panggung kehormatan. Semakin dekat ku tatap, semakin jelas aku melihat sosok perempuan itu. Dialah Melly Subandono, peraih penghargaan Mahasiswa Teladan tahun 2020. Dia berhasil dengan pencapaiannya sebagai satu-satunya mahasiswi yang berdiri di panggung kehormatan. Melly, yang dua tahun lalu sungguh berbeda dengan Melly saat ini. Pesona kecantikannya terpancar lewat senyum dan lambaian tangannya. Tatapan matanya tepat kearah mataku, menusuk Sukma relung hati paling dalam. Aku balas dengan senyuman dan lambaian tangan. Dia berlari memeluk keluarganya, kemudian menghampiriku sembari tersenyum manis. Ku balas senyumannya, sembari ku ulurkan tangan berbingkai mawar merah. "Selamat atas gelarnya Mel, tak sia-sia perjuanganmu selama ini. Tak bosan aku mendo'akanmu agar engkau sadar, bahwa ada lelaki di depanmu yang berharap agar engkau bersanding dengannya sebagai pasangan suami-isteri", ucapan ini hanya mampuh aku simpan dalam hati, membiarkan senyumannya sebagai ungkapan rasa syukur. Dia menyambut uluran tanganku dengan penuh kelembutan. Aku sadar, kamu adalah adikku, adik Biologisku. Dan aku adalah kakakmu, kakak Biologismu. Aku tahu, selepas ini engkau akan meninggalkanku. Meninggalkan lingkunganku. Meninggalkan kota kenangan ini. Aku tahu, engkau harus mengejar cita-cita besarmu, menjadi mahasiswa Universitas Teknologi Rhein Westfalen, German. Selamat tinggal Melly. Sukses di sana. Kita tidak mungkin bisa bersama, namun do'aku selalu sama, "Berharap Engkaulah Pelabuhan Terakhirku".

Dah mau ke Jerman aja si melly wkwk, nice story kak, Ceritanya penuh romansa dan perjuangan. mengagumkan
ReplyDeleteTerimakasih kak. Ia nih Melly harus mengejar cita-cita nya jadi seorang insinyur muda.
DeleteIyaa, Garanya belum mau mengungkapkan makanya Melly pergi ke Jerman. Ini kisah cinta yang ideal bngt
ReplyDeleteNice cerpen a...
ReplyDeletesebagai peminat kata penyanjung sastra..
appreciate bgt dgn tulisan ini :)
Terimakasih kak Dede.
Delete