Resah, gelisah membara dalam dada. Sebuah pesan singkat yang menggetarkan seluruh rongga-rongga tubuh, merapuhkan seluruh tulang belulang, menghancurkan harapan yang dulu pernah menjadi sebuah impian. Aku tertunduk lesu, pikiran tak karuan. Makan tak enak tidurpun tak nyenyak. Seakan bayangan pesan itu tidak bisa aku lupakan. Walau aku tau, kejadian tidak bisa kita tafsirkan sebagai sebuah berkah atau musibah, karena sejatinya apapun yang terjadi adalah kehendak-Nya, sebagai pencipta alam raya dan segala isinya.
* * *
Malam itu aku termenung di sudut kota, ditemani rintik-rintik hujan yang seakan mengerti akan apa yang sedang aku rasakan. Udara yang tuhan kirim, seakan pertanda akan makna kehidupan yang hanya sementara. Segelas kopi asli perkebunan kota ini, menambah akan suasana kesedihan yang sedang aku hadapi. Isapan kehangatan dari sebatang rokok yang sedang ku isap, dengan aroma tembakau asli dari tanah nusantara, menambah kelamnya malam. Beban pikiran yang kini sedang aku hadapi, imbas pada nilai akademis di kampus. Jika harapan tak bisa aku gapai, mungkin mati adalah jalan terbaik untuk saat ini. Namun dinginnya malam, dan panasnya kopi, mengingatkan Aku akan apa yang sedang terjadi. Tak terasa dua bungkus rokok sudah ku habiskan. Dan penjaga kedai yang sudah memberitahukan, bahwa kedai ini akan segera tutup. Perlahan aku berjalan meninggalkan kedai, semakin jauh kaki melangkah, semakin aku berharap, esok aku bisa melupakan segala apa yang sedang terjadi.
Pagi ini, aku tidak masuk kuliah. Sejak januari, aku juga tidak bekerja lagi, sehingga beban kerja yang di amanahkan oleh ketua yayasan, tidak lagi diberikan kepadaku. Sejak itulah tugasku hanyalah mengejar target akademis sebagai mahasiswa dengan target lulus cepat dan nilai yang memuaskan. Namun apa daya, hari ini, aku harus membuang harapan itu.
Waktu sudah menunjukan pukul 10.30. Setelah shalat duha, aku pergi ke rumah kawan lamaku, dari kampung halaman.Sekarang sedang kuliah di kota yang sama juga dengan diriku, yogyakarta. Beasiswa yang dia dapatkan lewat jalur prestasinya saat duduk di bangku SMA, membuat dia mampu bersaing dengan mahasiswa-mahasiwa lainnya. Indra, kawan lamaku yang sekarang sedang menempuh S2 jurusan Matematika di Universitas ternama di Yogyakarta, yang sebentar lagi mendapatkan penghargaan dari presiden Republik Indonesia atas apa yang di raih di perlombaan Matematika tingkat internasional.
Indra memang sahabat terbaikku sejak masih di bangku SMA, dia juga hafal beberapa juz Al-Quran. Aku coba meminta solusi dari orang yang secara akademis menjanjikan dan secara nurani meyakinkan. Sebelum ke kampus sekarang, dia juga pernah mengikuti seleksi-seleksi beasiswa luar negeri, tapi gagal. Bukan akibat prestasinya yang kurang atau hasilnya yang tidak memuaskan. Namun, akibat beberapa hal yang menyebabkan dia tidak bisa berangkat ke negara-negara tujuan. Aku coba meminta pituah dari orang yang memiliki pengalaman dari masalah-masalah seperti ini.
Ba’da shalat dzuhur Indra mengajakku ke sebuah pondok tempat dia mengemban amanah sebagai guru mata pelajaran matematika di kelas XII. Entah apa maksudnya mengajakku kesini, namun yang pasti inilah jawaban dari apa-apa yang sudah aku ceritakan kepadanya. Dia memintaku untuk melihat-lihat lingkungan pondok. Hingga tak terasa waktu menuju senja, aku baru sadar selama inikah aku memandang keadaan pondok yang sangat nyaman dan damai, dengan naungan ukuwah yang tidak pernah hilang, dan ikatan bak sebuah keluarga yang selalu mengingatkan dikala lupa.
Indra mengajakku untuk melihat lingkungan mahasiswa dan proses perkuliahan. Melihat-lihat keadaan bagaimana mahasiswa syariah kuliah dilingkungan pondok yang mengemban amanah sebagai pondok pencetak kader dakwah melalui sistem halaqoh tarbawiyahnya.
“bagaimana pandanganmu terkait tempat ini, Gar?” tiba-tiba Indra bertanya dengan nada yang sangat membuat jantungku berdetak kencang. “luar biasa ndra, ini tempat bagus kayanya buat orang-orang yang memiliki kemampuan sebagai pembawa misi dakwah”. Jawabku. “kamu suka gak?” lanjutnya. “suka banget ndra, lingkungan nya sangat mendukung nih kayanya.”jawabku dengan nada yang membuatku tenang.
“Nanti hari rabu, kamu ikut seleksi ya di sini. Kebetulan pendaftaran mahasiswa baru masih dibuka sampai nanti hari rabu. Melihat kelebihan dan masalah yang sedang kamu hadapi saat ini, aku kira cocok untuk mu yang suka dengan dinamika masyarakat dan hubungan keluarga. Apalagi sekarang kamu aktif di BKKBN, dengan background kamu sekarang, insyaalloh masa depanmu sesuai dengan jurusan ini”. Lanjutnya dengan panjang dan keluar dengan kata-kata yang sangat tulus. ada perasaan berbeda saat Indra berkata seperti itu, ada ketenangan yang tak bisa di beli dengan apapun.
***
Dua tahun sudah aku merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa. Lingkungan yang mampu membimbingku sesuai dengan apa yang dulu aku idamkan. Sebuah peradaban yang mampu menjalankan Syariat Islam secara nyata. Sistem halaqoh tarbawiyah yang menjadi sistem utama di kampus ini, sangat membantu dalam proses-proses yang sedang aku jalankan.
Namun, sejatinya manusia pasti memiliki sebuah perasaan yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata, tak mampu dituliskan dengan sebuah tulisan dan tak mampu di tuangkan dalam sebuah grafik statistika. Begitulah aku, mengagumi seorang perempuan asli tanah pasundan, terlahir dan besar di kota dengan julukan kota santri. Tak heran jika aku mengaguminya sebagai sosok perempuan yang luar biasa, penuh dedikasi tinggi sebagai kader dakwah yang menembus kegelapan demi peradaban yang cerah gemilang. Jilbab panjang menambah keanggunannya, gamis manis menampah pesonanya, Alquran digenggamannya menambah akan keindahan sosok ciptaan tuhan, yang mampu menciptakan bidadari yang turun dari khayangan.
Selepas kuliah tak tahu kenapa aku berasa ingin silaturahim ke murrobi. Ingin mendapatkan suapan nasihat untuk diri ini yang imannya selalu naik-turun. Ketika aku buka pintu rumah, tak ku sangka pandanganku tertuju pada perempuan berkerudung abu, seperti menatap mentari yang terbit dari upuk timur, memancarkan sinar paginya untuk mengawali kehidupan. Dia membalas dengan senyuman, memandangku kemudian memalingkan pandangannya. Seakan tersipu malu melihat kedatanganku yang tak diundang ini. Ternyata dia sedang halaqoh tarbawiyah dengan istri murobbi sebagai murobbiahnya. Dengan tersipu malu aku ijin pamit dan meminta maaf atas kelancanganku datang tanpa pemberitahuan ini.
Dalam perjalanan, aku tersenyum membayangkan beruntungnya aku jika mampu bersanding dengannya. Bruggggg !!!.......
Seorang anak tiba-tiba menabrakku dari depan. Dan hilanglah dia dalam lamunanku.
***
Tepat lima tahu aku berada di kampus ini, mencari ilmu memperbaiki diri, membuat pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan sebagai mahluk tuhan yang sedang mencari jati diri. Begitu juga keilmuanku, bertambahnya ilmu dan pengalaman membuat aku ingin mencoba jejak perjuangan para sahabat nabi yang menyempurnakan sebagian agamanya. Mengamalkan apa yang sudah aku dapatkan di bangku perkuliahan sebagai mahasiswa yang mengambil konsentrasi hukum keluarga dan psikologi keluarga. Menjadi lelaki yang melahirkan generasi-generasi untuk menjadi kader dakwah. Menjadi suami yang akan membimbing istrinya menuju surga ilahi. Menjadi lelaki yang akan merubah peradaban lewat peran fungsi keluarga sebagai pondasi suatu peradaban. Namun tiba-tiba semua sirna. Sepucuk surat undangan bertuliskan Melati Zahratunisa, tiba dalam genggamanku. Memancarkan rasa cemburu yang sangat besar bagiku, seperti rembulan yang terkalahkan oleh bintang-bintang yang bersinar memancarkan pesona kecantikannya, mengeluarkan aroma keromantisannya, mengambil alih peran bulan sebagai ratu yang menyinari dalam kegelapan.
Rapuh sudah hati ini, tercabik-cabik oleh tulisan yang aku baca, tertusuk oleh sebuah nama yang tertera mendampinginya, terbakar oleh api cemburu yang semakin lama semakin membara dalam dada. Membakar gejolak cinta yang dulu pernah aku harapkan, sebagai perempuan yang akan mendampingiku dalam setiap jejak langkah kehidupan, mendampingiku dalam menyebarkan firman-firman tuhan, mendampingiku dalam setiap episode-episode kehidupan. Ku pandangi surat undangan ini, semakin aku memandang, semakin aku menyesal akan keterlambatanku dalam menjemput pujaan hati, menjemput bunga yang telah dipetik oleh orang lain. Pupus sudah harapan ini, harapan yang lebih aku harapkan dari semua harapan yang aku harapkan. Tak terasa air mataku menetes ke atas lembaran-lembaran firman tuhan, ke atas sebuah kalimat yang terbasahi oleh airmataku. Dititik inilah aku sadar, jika aku paksa untuk meminangnya, maka haram bagiku meminang diatas pinangan orang lain. Aku tersadar dari bujuk napsu yang sedari dulu menjadi teman dalam hayalanku, yang menjadi sahabat dalam kesendirianku, yang menjadi sebab gejolak asmara tumbuh mengakar dalam relung hatiku.
Surat undangan ini menjadi tamparan keras akan harapan yang aku sandarkan, bukan pada sandaran yang seharusnya aku sandarkan. Atas cinta yang aku pujakan, bukan pada sang maha cinta. Atas rindu yang aku belenggu, bukan pada sang pemilik qolbu.

Comments
Post a Comment