Surya Laya
Bunga Dalam Ketidak Sengajaan
Dibalik
tirai putih dengan garis hitam melingkar di tengahnya, kulihat bayangan seseorang
sedang merapihkan kain putih. kutatap hingga bayangan itu seakan menghampiriku
perlahan.
"assalama'alaikum,
akhy."suara lembut ini menyambar dalam keheningan.
"wa'laikumsalam
ukhty. afwan, ada yang bisa saya bantu?" jawabku dengan sedikit malu.
"afwan. ane mau
nanya kalau tasikmalaya dari sini naik kendaraan apa ya?”
“banyak. Ukhty bisa naik Budiman, Primajasa, Do’a Ibu dan Aladin. Itu
semua langsung berhenti di terminal bis Tasikmalaya.”.
“syukron akhy, afwan ane ganggu waktu istirahat akhy”
“ia, sama-sama. Gak papa kok.”balasku.
Ucapan salam perpisahan menjadi penutup pembicaraan kami. Langkah
kakinya menjadi lambaian selamat tinggal. Assalamu’alaikum, semoga kita
dipertemukan kembali di tempat seperti ini. Sambil ku rapihkan sarung dan kur’an
kemudian ku simpan kembali ke dalam tas yang kubawa dari jakarta.
Angin sepoi-sepoi, suara kelakson dan musik yang diputar oleh sang supir
menemani perjalananku menuju pesantren yang abah katakan itu. Pesantren yang
menurut beliau adalah pesantren yang terkenal di indonesia bahkan sampai keluar
negeri. Beliau juga menceritakan bahwa santrinya ada yang dari singapore,
malaysia, berunai darussalam, belanda bahkan dari benua amerika. pesantren ini
memiliki guru mursyid yang sangat terkenal bahkan saking terkenalnya ini banyak
pengikutnya yang mencari ilmu kepada beliau dengan menginap disana. Abah pernah
menceritakan bahwa ada salah satu santri dari pesantren ini yang sering sekali
menginap di pesantren ini walaupun dia berasal dari luar jawa.
“udah sampai bang. Abang dari sini lurus kesana nah didepan ada masjid
kemudian abang laporan ke penjaga atau kantibnya.” Kata supir Elf yang
mengantarkanku dari bandung ke pondok pesantren ini sambil menunjuk kearah
utara.
“ia mas. Makasih ya” balasku.
Ketika ku langkahkan kaki pertama, aku merasakan ada aura yang seakan
menyeretku untuk segera mencari masjid yang dikatakan supir tadi. Namun aku
berpikir untuk makan dulu sebelum masuk ke pesantren. Karena kata abah, jangan
pernah berharap sesuatu di pesantren ini, kalau ada yang kamu perlukan maka
kamu harus mencari dulu sendiri. Entah apa maksud abah ini, namun karena
perutku sudah sangat lapar, maka aku putuskan untuk makan di warung nasi dekat
gerbang masuk pesantren.
Setelah selesai makan ku lanjutkan untuk mencari masjid yang supir tadi
bilang, dan tak sempat beberapa meter aku melihat menara masjid yang dilapisi
dengan cat kuning dan bergariskan hijau.
“assalamu’alaikum pak”. Seuntai kata yang mengawali perjumpaanku dengan
penjaga keamanan di ponpes ini.
“wa’alaikum salam de, ada yang bisa saya bantu ?”
“saya datang dari jakarta, kebetulan sudah masuk waktu dzuhur saya izin
shalat disini.”
“owh ia de silahkan”.
Kenikmatan yang tak pernah ku rasa selama hidup, kini hanya dapat di
rasakan di sebuah pesantren di pelosok negeri. Hembusan angin, suara merdu sang
muadzin, menemani subuh di pesantren ini. Suara gemercik air menambah suasana,
santri putra dan santri putri datang dengan membawa kitab kuning dan al Qur’an
seakan aku hidup di surga dunia.
Setelah shalat subuh, aku duduk di serambi masjid, ada sebuah buku yang
sangat menarik untuk ku baca. Kulangkahkan kaki perlahan dan kuambil buku itu.
“afwan, ukhty, afwan. saya gak sengaja” tangan ku tak sengaja memegang
tangan sorang perempuan yang ingin mengambil buku yang sama.
“akhy ! akhy bukan yang waktu itu saya temui di masjid waktu di bandung
?” jawabnya dengan malu dan seakan mengambil kembali tangan dan menutupnya
kembali dengan kerudung yang menutup seluruh tubuhnya.
“masyaalloh, ukhty. Afwan ukhty saya hampir lupa, afwan. Kok ukhty ada
disini? Bukannya mau ke tasikmalaya!”
“ia, tujuan saya ke tasikmalayakan mau ke pondok pesantren suryalaya.
Akhy sendiri kok bisa ada disini ?”
“emang tujuan saya mau kesini. Cuman karena badan terasa capek jadi saya
istirahat dulu dan sekalian sholat dhuha”.
“masyaalloh, kenapa kita gak bareng aja waktu itu. Toh kita sama-sama
satu tujuan.”
Cahaya matahari sudah meninggalkan serambi masjid dan kami masih membicarakan
ketidak percayaan akan yang terjadi saat ini.
Setelah shalat subuh, aku mengajaknya untuk silaturahmi ke umi, istri
almarhum pemilik pesantren suryalaya.

Comments
Post a Comment